Berita  

Bangkit dari Mati Suri 50 Tahun, Pemkab TTU Bangun Lagi Bandara Sasi, Rp7 Miliar Dialihkan, Target Pesawat Mendarat Maret 2026

KUPANG,NW,id – Setelah lebih dari setengah abad tak beroperasi, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, resmi menghidupkan kembali Bandar Udara Sasi di Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu.

Proyek ini menandai kebangkitan akses transportasi udara di wilayah perbatasan yang terakhir kali memiliki bandara aktif pada era 1970-an.

Pembangunan bandara mulai dikerjakan dalam dua hari terakhir. Pantauan di lokasi menunjukkan dua unit alat berat jenis ekskavator dikerahkan untuk membersihkan area inti bandara yang selama puluhan tahun terbengkalai.

Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, mengungkapkan proyek tahap awal ini didukung anggaran sebesar Rp7 miliar.

Dana tersebut sebelumnya dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dalam kota, namun dialihkan demi mendukung pembangunan bandara.

BACA JUGA:  Polisi Amankan Tiga pelaku Pencurian di SD Inpres Roja 2 Ende, Dua Pelaku Masih Di Bawah Umur

“Anggaran ini kita gunakan untuk pembersihan lahan, pembangunan pagar, runway, serta akses jalan bagi masyarakat,” kata Falentinus kepada awak media, Selasa (7/1/2026).

Falentinus menegaskan, keputusan mengalihkan anggaran bukan tanpa pertimbangan. Pemerintah daerah menilai bandara merupakan kebutuhan strategis jangka panjang untuk membuka isolasi wilayah dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, salah satu keunggulan utama proyek Bandara Sasi adalah ketersediaan lahan milik pemerintah daerah yang luas dan strategis. Kondisi ini membuat pembangunan dapat berjalan tanpa hambatan pembebasan lahan yang kerap memicu konflik di daerah lain.

Tahap awal pembangunan difokuskan pada pembersihan lahan dan pembangunan pagar pengaman. Selanjutnya, Pemkab TTU akan membangun landasan pacu dengan panjang 700 hingga 800 meter.

BACA JUGA:  Transparan ke Publik, Bank NTT Rilis SBDK Desember 2025 untuk UMKM hingga KPR

Runway tersebut dirancang untuk melayani pesawat berjenis short take-off and landing, seperti pesawat Caravan berkapasitas 12 penumpang dan Casa berkapasitas 24 penumpang.

Pemkab TTU menargetkan pendaratan perdana pesawat pada Maret 2026, menyesuaikan dengan progres pekerjaan fisik dan kesiapan fasilitas dasar.

Di sisi lain, Falentinus mengakui pembangunan bandara ini bersinggungan langsung dengan aktivitas warga sekitar.

Selama ini, sejumlah warga memanfaatkan jalur di dalam kawasan bandara sebagai akses jalan utama.

“Kami tidak akan menutup akses warga tanpa solusi. Jalan alternatif akan dibangun di sisi bandara agar masyarakat tetap bisa beraktivitas,” tegasnya.

Pembangunan jalan pengganti tersebut disebut menjadi bagian penting dari proyek bandara, bukan sekadar pelengkap. Pemkab TTU menilai akses tersebut vital bagi mobilitas dan aktivitas ekonomi warga.

BACA JUGA:  Sidang Tipikor Kredit Bank NTT Rp3,3 Miliar,Kuasa Hukum Joao Meco Heran Jaksa Tak Lakukan Penyitaan

Lebih jauh, Falentinus menyebut pembangunan Bandara Sasi sejalan dengan peluang pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) di TTU, termasuk rencana pengembangan sektor garam dan kawasan ekonomi perbatasan.

Ia meyakini, jika proyek-proyek strategis tersebut berjalan, kebutuhan penerbangan ke dan dari TTU akan meningkat signifikan.

“Bandara ini kita siapkan sebagai pintu masuk investasi, pariwisata, dan logistik. Tapi yang paling penting, pembangunannya tetap berpihak pada masyarakat,” ujarnya.

Dengan dimulainya pembangunan Bandara Sasi, Pemkab TTU optimistis wilayah perbatasan ini akan memiliki konektivitas udara yang layak, sekaligus menjadikan bandara sebagai penggerak ekonomi baru tanpa mengorbankan kepentingan warga lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *