Alor  

Marak Tawuran Pelajar di Alor, Johni Asadoma Gagas Deklarasi Akbar Damai Libatkan RT hingga Tokoh Adat

Wagub NTT Jhoni Asadoma

KALABAHI.NW.id – Merebaknya aksi tawuran dan kenakalan remaja yang melibatkan pelajar serta anak-anak di bawah umur di Kabupaten Alor menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTT.

Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun komitmen bersama menjaga keamanan dan ketertiban melalui deklarasi damai yang melibatkan seluruh unsur masyarakat hingga tingkat RT dan RW.

Ajakan tersebut disampaikan Johni saat memimpin dialog bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala SMP, SMA, dan SMK se-Kecamatan Teluk Mutiara yang berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Alor, Kapolres Alor, Camat Teluk Mutiara, pimpinan perangkat daerah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta para kepala sekolah.

Dialog berlangsung terbuka dengan fokus membahas meningkatnya kasus tawuran dan kenakalan remaja yang belakangan meresahkan masyarakat.

Dalam pertemuan itu, berbagai tokoh menyampaikan pandangan terkait akar persoalan dan langkah penanganan yang perlu dilakukan.

Tokoh masyarakat Agustinus Asamal menilai penyelesaian masalah harus dilakukan secara menyeluruh dengan mengidentifikasi pelaku, akar persoalan, serta melibatkan seluruh pihak terkait.

BACA JUGA:  HUT 100 Tahun Injil di Pantar Timur, Wagub NTT Johni Asadoma Serukan Toleransi dan Bangun Generasi Unggul

Sementara tokoh agama Lukman Sallo menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan hingga ke tingkat desa dan kelurahan serta penguatan regulasi untuk mencegah konflik serupa terulang.

Sejumlah kepala sekolah juga menyampaikan keprihatinan mereka. Kepala SMA Kristen 1 Kalabahi, Santo Waang, mengungkapkan pihak sekolah pernah menemukan siswa yang membawa anak panah ke lingkungan sekolah saat dilakukan razia.

“Kami berharap ada tindakan tegas agar memberikan efek jera kepada para pelaku,” ujarnya.

Berbagai usulan lain turut mengemuka, mulai dari pengaktifan kembali siskamling, pembentukan tim kamtibmas, penerapan jam wajib belajar dan jam malam bagi anak-anak, hingga penguatan pendidikan karakter di lingkungan keluarga dan sekolah.

Pendeta Mikhael Karbeka dari Gereja Imanuel Molla menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari rumah melalui pengawasan orang tua serta pendidikan moral yang berkelanjutan.

Ia juga mendorong pelibatan tokoh adat dan tokoh kerajaan di Alor untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya sebagai benteng bagi generasi muda.

BACA JUGA:  Kunker ke Alor, Johni Asadoma Bahas Survei Listrik Bersama PLN, Fokus Wilayah Minim Akses Energi

Kepala Desa Air Kenari, Muhammad Usman, mengungkapkan bahwa banyak anak yang terlibat tawuran berasal dari lingkungan keluarga yang kurang memberikan perhatian dan pengawasan.

Kondisi tersebut, menurutnya, diperparah dengan semakin berkurangnya pengaruh tokoh masyarakat dan tokoh agama di tengah kehidupan sosial.

Di sisi lain, Wakil Bupati Alor menilai perkembangan media sosial turut menjadi faktor pemicu konflik antarkelompok remaja. Saling ejek dan provokasi di ruang digital kerap berujung pada bentrokan fisik di lapangan.

Hal serupa disampaikan Kapolres Alor yang mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus tawuran berawal dari perselisihan di media sosial dan diperparah oleh konsumsi minuman keras.

Kapolres menegaskan bahwa setiap pelaku yang terbukti melanggar hukum akan tetap diproses sesuai ketentuan yang berlaku, meskipun masih berstatus anak di bawah umur.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Johni Asadoma menegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketenteraman bukan hanya tugas aparat keamanan maupun pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

BACA JUGA:  Resmikan Puma Archery Club, Wagub Johni Asadoma Buka Turnamen Panahan Danlanud El Tari Cup 2025

Menurutnya, seluruh masukan yang disampaikan menjadi bahan penting dalam merumuskan langkah strategis untuk mengatasi persoalan tawuran dan kenakalan remaja di Kabupaten Alor.

Johni juga menekankan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan tuntas. Namun di sisi lain, upaya pencegahan harus diperkuat melalui pendidikan karakter, pembinaan moral, kegiatan keagamaan, olahraga, seni, budaya, hingga pengembangan kewirausahaan bagi generasi muda.

Ia menilai anggaran pemerintah seharusnya lebih diarahkan untuk kegiatan produktif yang mampu menjadi ruang positif bagi anak-anak dan remaja dalam menyalurkan kreativitas serta energi mereka.

Di akhir pertemuan, Johni meminta seluruh rekomendasi yang muncul dalam dialog tersebut dirumuskan menjadi sebuah deklarasi bersama yang melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, lurah, kepala desa, RT, RW hingga organisasi kemasyarakatan.

“Kita ingin membangun gerakan bersama agar Alor menjadi daerah yang damai, aman, tertib, dan menjadi tempat terbaik bagi masa depan anak-anak kita,” tegas Johni Asadoma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *