Oleh: Olin Yora
Lima tahun lalu, Roberd pertama kali melihat Adinda di halaman kontrakan sempit itu. Bukan satu kampus. Roberd mahasiswa Universitas Negeri, Adinda di universitas swasta seberang kota.
Namun nasib mempertemukan mereka di kontrakan murah belakang pasar tempat Adinda tinggal bersama dua keponakannya, dan Roberd singgah menemui teman lama.
Gadis itu sedang menjemur pakaian. Rambutnya diikat karet gelang merah yang sudah kusam. Matanya menyala seperti orang yang menyembunyikan seribu mimpi.
“Kamu dari mana?” tanyanya sambil memeras kain.
“Asrama. Yang sangat ketat.”
Adinda tertawa. “Sama. Kontrakan ini juga ketat.”
Dari situlah semuanya mengalir. Tapi menjadi dekat secara fisik adalah hal yang paling sulit.
Hubungan mereka tumbuh dari pesan WhatsApp setiap malam. Lima bulan baru bisa bertemu sekali. Bukan karena tidak mau. Asrama Roberd melarang tamu perempuan, apalagi keluar malam. Kontrakan Adinda penuh tetangga yang gosipnya lebih pedas dari sambal terasi.
Mereka hanya bisa bertemu di taman kota, di bangku beton yang panas terik jika siang, atau dingin menusuk jika malam.
Cinta jarak jauh dalam satu kota tetap penuh bayang-bayang. Roberd cemburu melihat foto Adinda dengan senior di kampusnya. Adinda sakit hati mendengar gosip bahwa Roberd masuk kafe bersama perempuan berhijab pink padahal itu sepupunya. Mereka bertengkar, berbaikan, bertengkar lagi.
Suatu malam, di teras kontrakan ditemani teh manis hangat, Roberd berkata, “Aku capek, Din.”
“Capek skripsi atau hubungan?”
“Keduanya.”
Lalu ia bicara tentang keinginannya keluar asrama, tentang butuh ruang sendiri. Adinda diam. Ia paham. Tapi di kepalanya sudah berhitung: uang kos, listrik, air, makan.
Roberd nekat keluar asrama. Ia pindah ke kos sederhana di pinggiran kota: kamar 3×4, dinding tipis, kamar mandi luar.
Seminggu kemudian, rak buku lipat terpasang di dinding kos. “Itu Mbak Adinda yang pasang, Mas,” kata Bu Lastri, pemilik kos, yang jarinya bengkok karena rematik bekas mencuci pakaian orang kaya dua puluh tahun. “Dia datang pagi-pagi buta.”
Roberd terkejut. “Din, kamu beliin rak?”
“Ah, cuma dua puluh ribu, bekas. Tenang.”
Ia tidak tahu bahwa Adinda memotong uang makannya seminggu untuk itu.
Beberapa bulan kemudian, kipas angin bekas muncul di sudut kamar. Lalu setrika. Roberd mulai bertanya-tanya, tapi setiap kali ia bertanya, Adinda hanya bilang, “Nabung dari gaji. Tenang saja.”
Roberd tidak tenang. Tapi ia juga tidak bertanya lebih jauh. Karena takut jawabannya, akuinya pada diri sendiri malam itu. Ia berbaring di tikar, menatap langit-langit.
Perutnya kenyang karena tadi makan malam di warteg. Sementara di kontrakannya yang jauh, Adinda mungkin hanya makan nasi dan kecap. Ia tahu, tapi ia memilih tidak tahu.
Perasaan bersalah itu ia kubur di bawah tumpukan skripsi yang tak kunjung selesai.
Dua tahun berlalu. Suatu sore Roberd mampir ke kontrakan Adinda tanpa kabar. Adinda sedang di kamar mandi. Dompetnya terbuka di meja: isinya Rp23.500. Roberd membuka kulkas bersama: setengah ikat kangkung layu dan dua butir telur. Untuk seminggu, kata tetangga.
Gadis itu semakin kurus. Tulang pipinya menonjol. Kerah bajunya longgar.
“Din, kamu sudah makan?”
“Sudah. Nasi pecel di kantin.” Nasi dengan sayuran seadanya, tanpa lauk.
Malam itu di angkringan, Roberd memintanya pindah kontrakan. Adinda menghela napas. Kontrakannya baru dibayar setahun penuh.
“Kalau begitu berhenti kerja. Badanmu semakin kurus.”
Mata Adinda berubah. “Kau gila, Ro. Kalau aku tidak kerja, kebutuhan kita sehari-hari ambil dari mana? Kamu sendiri belum kerja tetap. Kosmu, listrikmu, air minummu dua tahun ini aku yang bayar.”
Roberd terdiam. Bukan karena ia tidak tahu. Tapi karena mendengar itu diucapkan langsung terasa seperti tamparan.
“Maaf,” katanya lirih.
“Maaf tidak membuat kulkas berisi, Ro.”
Ia memesan sebatang rokok, meskipun tidak merokok. Hanya menghisap sekali, lalu membiarkannya terbakar di asbak. Asap tipis naik ke udara malam.
Malam itu mereka pulang sendiri-sendiri. Roberd berjalan kaki ke kosnya. Sepanjang jalan ia membayangkan: jika ia tidak mengambil semua yang diberi Adinda, mungkinkah ia lebih tega? Atau justru ia sengaja tidak mau tahu karena takut harus berhenti menerima?
Sahabat Adinda, Maya, bekerja di bagian keuangan kampus. Suatu siang ia menarik Adinda ke kantin belakang. “Kamu lihat dirimu sendiri? Kurus kayak lidi. Jangan diturutin terus.”
“Dia sedang berjuang, May.”
“Berjuang? Berjuang sambil tidur di kos nyaman dengan kipas angin dan setrika yang kamu belikan?” Maya menyeruput es tehnya keras-keras. “Suatu hari kamu akan rebah. Dan dia baru sadar setelah kamu hampir mati.”
Adinda diam. Ia teringat ibunya yang dulu bekerja di pabrik rokok sampai paru-parunya rusak. Ibunya selalu bilang, “Nak, jangan jadi seperti Ibu. Ibu lupa mencintai diri sendiri.” Mata Adinda basah. Ia menyeka cepat-cepat.
Setahun kemudian, kontrakan Adinda habis masa sewa. Roberd sudah menemukan kontrakan baru yang lebih murah. Mereka bertemu di ruang tamu kos Roberd.
Bu Lastri ikut duduk, tangannya yang bengkok memegang sapu lidi. “Mbak Adinda, saya lihat Mbak sudah seperti anak sendiri. Kebaikan yang membunuh diri sendiri bukan kebaikan lagi. Itu bodoh.”
Adinda menggigit bibir. “Aku takut.”
“Takut apa?” Roberd meraih tangannya. Dingin dan kurus.
“Takut kalau aku berhenti kerja, lalu kita putus. Aku tidak punya apa-apa lagi.”
Bu Lastri meletakkan sapu. Wajahnya berubah serius. “Dulu saya juga seperti Mbak. Suami saya kerja tiga shift, bilangnya demi keluarga. Saya biarkan. Tahun ketiga, dia kolaps. Meninggal di tempat cucian. Sampai sekarang saya nyesel. Kenapa tidak saya hentikan lebih awal?”
Ruangan sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar. Adinda menangis. Roberd memeluknya erat.
“Baiklah. Aku berhenti.”
Tapi prosesnya tidak mudah. Kepala SDM kampus, Pak Agus, menolak. “Pikirkan seminggu, Mbak. Kamu aset berharga. Kalau kamu berhenti, kampus kehilangan orang baik. Dan kamu akan sulit mencari kerja lain tanpa referensi.”
Malam sebelum menandatangani surat, Adinda duduk di kamar kontrakannya yang gelap. Listrik mati. Sinar bulan masuk melalui celah triplek.
Ia membuka dompet masih Rp23.500. Ia menatap foto Roberd di dinding. Apakah aku bodoh? Ia mengingat pesan ibunya. Jangan jadi seperti Ibu.
Telepon berdering. Maya. “Kamu sudah tanda tangan?”
“Belum.”
“Jangan. Gue dengar dari Pak Agus, dia lagi memproses kenaikan gaji buat kamu. Kalau kamu berhenti, semua pengorbanan kamu sia-sia.”
“Tapi Roberd”
“Roberd bisa kerja sendiri. Biar dia buktikan. Kamu itu perempuan, Din. Bukan mesin ATM.”
Adinda tidak tidur malam itu. Ia bergulat: antara cinta dan harga diri, antara bertahan dan pulang.
Pagi harinya, ia datang ke kantor dengan surat belum ditandatangani. Pak Agus mengangkat alis. “Jadi?”
“Saya… belum yakin, Pak.”
Sepulang kerja, Adinda pingsan di tangga kontrakan. Kepalanya membentur ubin. Tetangga berteriak. Ambulans datang.
Maya menelepon Roberd. “Datang ke RS. Adinda masuk.”
Ruang rawat inap kelas tiga bau karbol. Adinda terbaring dengan infus. Dokter bilang anemia berat, hemoglobin hanya enam. Butuh transfusi dan rawat inap minimal lima hari. Roberd duduk di kursi plastik, wajah pucat. Maya berdiri di pojok, melipat tangan.
“Kamu lihat?” kata Maya pelan.
Roberd tidak menjawab. Ia hanya menatap tangan Adinda yang kurus. Urat biru terlihat seperti sungai kecil di musim kemarau.
Hari ketiga di rumah sakit, Roberd pulang ke kosnya. Kamarnya terasa asing. Rak buku lipat masih menempel di dinding. Kipas angin bekas masih berputar. Ia duduk di lantai.
Lalu, untuk pertama kalinya, ia menangis. Bukan isak tangis dramatis, tapi air mata yang jatuh pelan tanpa suara. Ia membuka dompetnya.
Uang sisa dari hasil kerja paruh waktu mengajar les dua minggu terakhir: Rp150.000. Belum cukup untuk biaya rumah sakit, apalagi obat-obatan Adinda.
Ia mengambil ponsel. Menghubungi teman lamanya, Yuda, yang punya bengkel. “Yud, pinjam dulu. Ada keperluan.”
“Berapa?”
“Dua juta.”
“Buat apa?”
“Keperluan medis.” Ia tidak menjelaskan lebih.
Yuda setuju. Roberd berjanji akan membayar dengan mengajar les tambahan.
Malam itu, ia baru benar-benar merasakan harga dari semua yang selama ini ia terima. Bukan hanya uang. Tapi rasa malu yang membakar.
Adinda sadar pada hari keempat. Ia melihat Roberd, lalu Maya. “Aku di mana?”
“RS. Kamu hampir mati, Din.” Maya menyeka air matanya sendiri.
Adinda menutup mata. Air matanya merembes ke pelipis.
Roberd menggenggam tangannya. Tangannya gemetar. “Aku sudah pinjam uang ke Yuda untuk biayamu. Dua juta. Aku akan bayar pelan-pelan.”
Adinda membuka mata. “Kamu pinjam?”
“Iya.” Roberd menunduk. “Selama ini aku tidak pernah memikirkan dari mana uang itu berasal. Aku pikir kamu kuat. Ternyata aku yang lemah.”
Adinda tidak menjawab. Ia hanya memutar kepala ke arah jendela. Seekor burung gereja bertengger di kawat. Lalu terbang.
Lima hari kemudian, Adinda keluar dari rumah sakit. Ia sudah menandatangani surat pengunduran diri. Pak Agus menerimanya dengan sedih. Maya marah besar. “Kamu bodoh, Din!”
Tapi Adinda sudah bulat. Ia akan pulang kampung ke ujung Jawa timur, yang belum ia kunjungi sejak tujuh tahun lalu. Ibu sudah tua. Ayah lumpuh.
Keponakannya sudah SMA. Di sana, ia bisa berjualan pecel. Ibunya bisa membantu. Beban hidup mungkin tidak ringan, tapi setidaknya ia tidak sendirian menanggung.
Sebelum berangkat, Roberd meminjam uang lagi dari Yuda kali ini satu juta untuk membelikan tiket kereta ekonomi dan bekal perjalanan. Ia tidak memberitahu Adinda bahwa itu pinjaman.
Di peron stasiun, pagi hari. Kereta mulai mengeluarkan asap. Roberd memegang tangannya. “Jangan lupa makan.”
“Kamu juga. Utangmu lunasi dulu. Jangan tambah-tambah.”
Roberd tersenyum pahit. “Aku akan menyusul, Din. Bukan sebagai tamu. Tapi… aku tidak tahu kapan.”
Adinda menatapnya lama. “Kita lihat saja.”
Kereta bergerak. Adinda melambaikan tangan. Roberd mengejar sebentar sampai peron berakhir. Lalu berhenti.
Tiga bulan kemudian, Roberd sudah menyelesaikan skripsinya. Ia bekerja sebagai asisten dosen dengan gaji pas-pasan. Sebagian untuk bayar kos, sebagian untuk cicil utang ke Yuda.
Masih tersisa Rp23.500 setiap minggu untuk makan. Sama persis dengan isi dompet Adinda dulu, pikirnya.
Ia tidak menghubungi Adinda setiap malam. Hanya seminggu sekali, karena pulsa terbatas. Suara Adinda di telepon terdengar lebih segar. “Ibu senang, Ro. Setiap pagi kami jualan pecel bareng. Badanku mulai berisi.”
Roberd tersenyum. Tapi di hatinya ada perih. Ia belum bisa menyusul. Utang masih tersisa satu juta. Belum lagi ongkos ke Jawa timur.
Suatu malam, Adinda berkata pelan, “Ro, aku baru paham. Dulu aku pikir bebas itu kabur dari tanggung jawab. Ternyata bebas itu tetap jadi diriku meskipun sayang kamu.”
Roberd terdiam. “Aku belum bebas, Din. Masih ada utang. Tapi… aku sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar tidak bergantung pada orang lain. Dan belajar bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih banyak memberi. Tapi tentang siapa yang berani jujur.”
Keheningan sejenak. Lalu Adinda berbisik, “Kapan kamu ke sini?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku tidak akan berjanji sebelum benar-benar bisa.”
“Itu jawaban yang paling jujur yang pernah kamu ucapkan.”
Pekan berikutnya, Roberd berdiri di peron stasiun yang sama. Bukan untuk berangkat. Ia baru saja melunasi utang terakhir ke Yuda. Dompetnya isinya Rp23.500.
Ia tidak membeli tiket. Belum.
Tapi di tangannya ada sepucuk surat untuk Adinda. Isinya: “Aku akan datang ketika aku tidak lagi menjadi beban. Maafkan aku yang dulu. Terima kasih karena kamu mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak butuh pengorbanan buta. Aku akan menyusul. Bukan sebagai tamu. Sebagai seseorang yang sudah belajar harganya.”
Ia memasukkan surat ke dalam amplop. Di luar, burung gereja terbang dari kawat. Roberd menatapnya. Kali ini ia tidak tahu ke mana burung itu pergi. Mungkin tidak masalah.
Yang penting ia sudah tahu bahwa kebebasan sejati tidak pernah datang dari lari, tapi dari berhenti, melihat ke belakang, dan bertanggung jawab.
Ia menutup mata. Merasakan angin stasiun yang dingin.
Lalu ia berjalan pulang ke kosnya. Masih ada skripsi yang harus dijilid. Masih ada besok yang harus dihadapi.
Tapi ia tidak lagi lari.
TAMAT.
Mauponggo, 18 Mei 2026


