Opini  

SENJA YANG MEMPERTEMUKAN

Oleh: Olin Yora

KUPANG.NW.idLangit Paroki Nele sore itu merah jingga. Robi duduk di bangku paling belakang, menyembunyikan kantuk setelah seharian mengecat pagar rumah tetangga  asrama.

Suara koor mengalun, meredam bunyi gerinda yang masih terngiang di telinga. Matanya mengikuti gerak-gerik seorang gadis di bangku ketiga dari depan. Kemeja putih lengan panjang, rok abu-abu, rambut dikuncir rapi.

Jemarinya membalik halaman buku nyanyian dengan sabar. Beberapa kali Robi membuang muka, lalu kembali lagi.

Misa usai. Robi menyusuri lorong, mencari. Bayangan putih itu meliuk ke pintu samping. Ketika ia sampai, tidak ada siapa-siapa.

Ia berdiri di tangga gereja. Angin membawa wangi bunga kamboja. Malam itu, wajah gadis itu muncul setiap kali ia memejamkan mata. Robi kesal pada dirinya sendiri. Ia bahkan tidak tahu namanya.

Dari bulan Februari hingga bulan April, hampir tiap malam ia membuka Facebook di kamar asrama. Ponsel diselipkan di balik Alkitab.

Ia menelusuri komentar-komentar di unggahan homili Paroki Nele, mencari nama yang mungkin. Ratusan profil, puluhan pesan. Jawaban yang sama: “Maaf, saya tidak pernah ke Paroki Nele.”

Teman sekamarnya terbangun. “Robi, kau mencari apa?” “Jawaban.”
“Untuk apa?”
“Untuk pertanyaan yang tidak tahu merumuskannya.”
Dua bulan. Robi hampir menyerah.

Tapi ia ingat senja itu, cara gadis itu tersenyum senyum yang bahkan belum tentu untuknya. Ia terus mencari. Pada pagi 9 April, ia menemukan sebuah akun sederhana. Foto profil bunga lili putih.

Di kolom komentar sebuah homili lama, ada nama: Adinda. “Terima kasih Romo, homilinya sangat mengena di hati.”

Robi mengirim pesan: “Selamat pagi. Apakah Anda yang menjadi komentator di Paroki Nele dua bulan lalu?”

Sepuluh menit berlalu. Kemudian: “Iya, saya yang bawakan komentator waktu itu.”

Robi menarik napas. “Akhirnya saya menemukanmu.”
“Hahaha, mencari saya? Kenapa?”

“Saya melihat Anda saat misa 02 Februari. Sejak itu saya mencari Anda.”

“Dua bulan? Saya biasa-biasa saja kok.”

“Saya hanya ingin mengenal Anda.”
Hening sejenak. “Nama saya Adinda. Semester dua keperawatan. Ini pertama kali ada orang mencari saya dua bulan hanya untuk mengenal saya.

Saya mau mengenal Anda juga.” Malam itu percakapan mereka mengalir hingga lewat tengah malam.

Pertemuan pertama tiga minggu kemudian. Robi berdiri di depan patung Kristus Raja sejak pukul tiga sore, meski janji pukul empat. Ketika Adinda muncul dengan kemeja putih dan rok krem, ia tersenyum. Mereka duduk di kafe sederhana.

Adinda memesan es teh, Robi juga. Adinda tertawa mendengar cerita Robi mencari namanya selama dua bulan. “Aneh,” katanya. “Tapi aku tersentuh.”

Sebelum berpisah, Robi menggenggam tangannya. “Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini.” Adinda tidak menarik tangan.

“Kita lihat saja. Aku orangnya susah percaya.” Hubungan jarak jauh mereka dimulai. Robi tinggal di asrama dengan aturan ketat.

Setiap malam ia menyembunyikan ponsel di kandang ayam belakang asrama, lalu duduk di pojok gudang yang lembab, menelepon Adinda.

“Kau gila,” bisik Adinda. “Demi apa kau sembunyikan HP di kandang ayam?”
“Demi suaramu.”

Adinda tertawa. Suaranya tipis, seperti angin yang masuk lewat celah jendela.

Mereka bertengkar soal hal kecil: lupa ulang tahun, cemburu, janji yang tidak ditepati. Adinda mudah marah dan mudah memaafkan.

Terlalu mudah. Itu yang membuat Robi gelisah. Suatu malam, setelah pertengkaran panjang, Adinda berkata, “Kau tidak pernah sungguh-sungguh hadir. Kau jatuh cinta pada ide tentang aku.” Robi terdiam. Ia ingin membantah, tapi ada benarnya.

Setelah keluar dari asrama, Robi bekerja di gudang material. Telepon mereka mulai berubah. Dulu ia bisa bercerita berjam-jam, kini suaranya terdengar datar, jawaban-jawaban pendek.

Adinda masih bertanya kabar, tapi Robi sering menjawab “baik” tanpa mau menjelaskan. Ia mulai sering lembur.

Bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena di gudang ada teman-teman yang tidak perlu tahu tentang Adinda. Salah satunya perempuan yang selalu membawakannya kopi tanpa gula persis seperti yang ia suka.

BACA JUGA:  Saat Tradisi Menggerogoti Gizi, Tebas Bakar dan Tingginya Stunting di NTT

Perempuan itu tidak banyak bertanya, tidak menuntut kabar setiap malam. Cukup tersenyum ketika Robi duduk di sampingnya.

Panggilan ke Adinda makin jarang. Dari setiap malam menjadi dua hari sekali, lalu seminggu sekali. Adinda bertanya lewat pesan: “Kamu sibuk?” Robi membalas: “Iya, banyak target.” Ia membohongi dengan mudah.

Suatu malam Adinda menelepon, suaranya parau. “Aku merasa kamu menjauh.”
“Enggak,” kata Robi. “Aku hanya lelah.”
“Lelah karena apa? Karena aku?”

Robi diam. Di latar belakang, ia mendengar Adinda menarik napas panjang. “Kalau kamu sudah tidak ingin, bilang saja.”

“Bukan begitu,” katanya. Tapi ia tidak bisa menjelaskan bagaimana.

Sebenarnya Adinda sudah mulai menarik diri. Beberapa hari terakhir ia tak lagi menanyakan kabar lebih dulu.

Namun pagi-pagi, foto Robi bersama perempuan di gudang itu muncul di linimasa seorang teman. Mereka berdua tersenyum, bahu bersentuhan.

Robi lupa bahwa temannya itu juga berteman dengan Adinda di Facebook. Foto itu hanya menjadi titik akhir yang tak bisa dihindari. Tidak ada teriakan. Tidak ada pertanyaan panjang.

Adinda hanya mengirim satu pesan: “Aku sudah bilang, aku susah percaya. Tapi aku mulai percaya padamu. Itu kesalahanku.” Robi mencoba menghubungi, tapi panggilannya tidak pernah diangkat.

Ia memutuskan pergi ke kos-kosan Adinda. Perjalanan tiga jam dengan bus, tanpa kabar. Hujan turun ketika ia tiba. Di perjalanan, bus melewati Paroki Nele.

Lampu-lampu di halaman gereja menyala redup dalam gerimis. Robi menunduk. Adinda membuka pintu, mata sembab. Ia tidak mempersilakan masuk.

“Apa yang kau cari di sini?”
“Maaf. Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf.”
“Ya. Kau tidak pantas.”

Pintu tertutup. Robi berdiri di sana, basah kuyup, sampai lampu kamar Adinda padam.

Ia kembali ke kota dan mencoba melanjutkan hidup. Tapi ia tidak bisa melupakan bagaimana Adinda tersenyum saat pertama mereka bertemu, bagaimana ia meletakkan kepalanya di bahu Robi di taman kecil dekat kos, di bawah pohon flamboyan.

Kenangan itu menusuk setiap kali ia ingat bahwa ia telah membuangnya karena alasan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan.

Tiga bulan kemudian, Adinda mengirim pesan. Bukan untuk kembali, tetapi untuk mengambil buku yang tertinggal. Robi datang. Mereka duduk di kafe yang sama.

Adinda terlihat lebih kurus, tapi senyumnya sama. “Aku tidak datang untuk merayu,” kata Robi. “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”  Adinda menunggu.

“Dulu aku mengira aku mencintaimu,” lanjut Robi. “Sekarang aku mengerti. Yang aku kejar selama ini bukan kamu. Tapi sensasi memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Dan ketika kenyataan menjadi sulit, aku lari.”

Adinda memainkan sedotan di gelas es teh. “Aku juga salah,” katanya pelan. “Aku tahu kau mencari aku dua bulan.

Tapi aku tidak pernah bertanya: kau mencari aku karena aku, atau karena kau butuh sesuatu untuk diyakini? Aku terlalu cepat percaya pada kebaikanmu.”
Robi menatap meja.
“Aku memaafkanmu,” kata Adinda. “Bukan karena kita bisa kembali. Aku hanya capek.” Mereka tidak berpelukan. Tidak ada janji baru.

Ketika senja datang lagi, mereka berpisah di depan kafe. Robi berjalan ke arah timur, Adinda ke barat. Di kejauhan, lonceng gereja berbunyi.

Seperti yang dulu mereka dengar bersama. Kini bunyinya lain: bukan panggilan untuk berkumpul, tapi sekadar penanda waktu yang terus berjalan.

Robi tidak berhenti. Ia sempat menoleh sekilas ke arah gereja tua di ujung jalan. Bangku paling belakang, tempat ia pertama kali melihat Adinda, kini kosong.

Ia membayangkan dirinya duduk di sana, lelah setelah mengecat pagar, mata mengembara tanpa tujuan. Saat itu ia tidak sedang mencari apa pun. Tapi kemudian ia melihat, dan ia memutuskan untuk mencari.

Di langit yang sama, senja mulai memudar. Robi membalikkan wajah dan terus berjalan. Ia tidak menoleh ke belakang.

Maumere,  April 2026

BACA JUGA:  Saat Tradisi Menggerogoti Gizi, Tebas Bakar dan Tingginya Stunting di NTT

SENJA YANG MEMPERTEMUKAN

Oleh: Olin Yora

KUPANG.NW.id -Langit Paroki Nele sore itu merah jingga. Robi duduk di bangku paling belakang, menyembunyikan kantuk setelah seharian mengecat pagar rumah tetangga  asrama.

Suara koor mengalun, meredam bunyi gerinda yang masih terngiang di telinga. Matanya mengikuti gerak-gerik seorang gadis di bangku ketiga dari depan. Kemeja putih lengan panjang, rok abu-abu, rambut dikuncir rapi.

Jemarinya membalik halaman buku nyanyian dengan sabar. Beberapa kali Robi membuang muka, lalu kembali lagi.

Misa usai. Robi menyusuri lorong, mencari. Bayangan putih itu meliuk ke pintu samping. Ketika ia sampai, tidak ada siapa-siapa.

Ia berdiri di tangga gereja. Angin membawa wangi bunga kamboja. Malam itu, wajah gadis itu muncul setiap kali ia memejamkan mata. Robi kesal pada dirinya sendiri. Ia bahkan tidak tahu namanya.

Dari bulan Februari hingga bulan April, hampir tiap malam ia membuka Facebook di kamar asrama. Ponsel diselipkan di balik Alkitab.

Ia menelusuri komentar-komentar di unggahan homili Paroki Nele, mencari nama yang mungkin. Ratusan profil, puluhan pesan. Jawaban yang sama: “Maaf, saya tidak pernah ke Paroki Nele.”

Teman sekamarnya terbangun. “Robi, kau mencari apa?” “Jawaban.”
“Untuk apa?”
“Untuk pertanyaan yang tidak tahu merumuskannya.”
Dua bulan. Robi hampir menyerah.

Tapi ia ingat senja itu, cara gadis itu tersenyum senyum yang bahkan belum tentu untuknya. Ia terus mencari. Pada pagi 9 April, ia menemukan sebuah akun sederhana. Foto profil bunga lili putih.

Di kolom komentar sebuah homili lama, ada nama: Adinda. “Terima kasih Romo, homilinya sangat mengena di hati.”

Robi mengirim pesan: “Selamat pagi. Apakah Anda yang menjadi komentator di Paroki Nele dua bulan lalu?”

Sepuluh menit berlalu. Kemudian: “Iya, saya yang bawakan komentator waktu itu.”

Robi menarik napas. “Akhirnya saya menemukanmu.”
“Hahaha, mencari saya? Kenapa?”

“Saya melihat Anda saat misa 02 Februari. Sejak itu saya mencari Anda.”

“Dua bulan? Saya biasa-biasa saja kok.”

“Saya hanya ingin mengenal Anda.”
Hening sejenak. “Nama saya Adinda. Semester dua keperawatan. Ini pertama kali ada orang mencari saya dua bulan hanya untuk mengenal saya.

Saya mau mengenal Anda juga.” Malam itu percakapan mereka mengalir hingga lewat tengah malam.

Pertemuan pertama tiga minggu kemudian. Robi berdiri di depan patung Kristus Raja sejak pukul tiga sore, meski janji pukul empat. Ketika Adinda muncul dengan kemeja putih dan rok krem, ia tersenyum. Mereka duduk di kafe sederhana.

Adinda memesan es teh, Robi juga. Adinda tertawa mendengar cerita Robi mencari namanya selama dua bulan. “Aneh,” katanya. “Tapi aku tersentuh.”

Sebelum berpisah, Robi menggenggam tangannya. “Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini.” Adinda tidak menarik tangan.

“Kita lihat saja. Aku orangnya susah percaya.” Hubungan jarak jauh mereka dimulai. Robi tinggal di asrama dengan aturan ketat.

Setiap malam ia menyembunyikan ponsel di kandang ayam belakang asrama, lalu duduk di pojok gudang yang lembab, menelepon Adinda.

“Kau gila,” bisik Adinda. “Demi apa kau sembunyikan HP di kandang ayam?”
“Demi suaramu.”

Adinda tertawa. Suaranya tipis, seperti angin yang masuk lewat celah jendela.

Mereka bertengkar soal hal kecil: lupa ulang tahun, cemburu, janji yang tidak ditepati. Adinda mudah marah dan mudah memaafkan.

Terlalu mudah. Itu yang membuat Robi gelisah. Suatu malam, setelah pertengkaran panjang, Adinda berkata, “Kau tidak pernah sungguh-sungguh hadir. Kau jatuh cinta pada ide tentang aku.” Robi terdiam. Ia ingin membantah, tapi ada benarnya.

Setelah keluar dari asrama, Robi bekerja di gudang material. Telepon mereka mulai berubah. Dulu ia bisa bercerita berjam-jam, kini suaranya terdengar datar, jawaban-jawaban pendek.

Adinda masih bertanya kabar, tapi Robi sering menjawab “baik” tanpa mau menjelaskan. Ia mulai sering lembur.

Bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena di gudang ada teman-teman yang tidak perlu tahu tentang Adinda. Salah satunya perempuan yang selalu membawakannya kopi tanpa gula persis seperti yang ia suka.

BACA JUGA:  Saat Tradisi Menggerogoti Gizi, Tebas Bakar dan Tingginya Stunting di NTT

Perempuan itu tidak banyak bertanya, tidak menuntut kabar setiap malam. Cukup tersenyum ketika Robi duduk di sampingnya.

Panggilan ke Adinda makin jarang. Dari setiap malam menjadi dua hari sekali, lalu seminggu sekali. Adinda bertanya lewat pesan: “Kamu sibuk?” Robi membalas: “Iya, banyak target.” Ia membohongi dengan mudah.

Suatu malam Adinda menelepon, suaranya parau. “Aku merasa kamu menjauh.”
“Enggak,” kata Robi. “Aku hanya lelah.”
“Lelah karena apa? Karena aku?”

Robi diam. Di latar belakang, ia mendengar Adinda menarik napas panjang. “Kalau kamu sudah tidak ingin, bilang saja.”

“Bukan begitu,” katanya. Tapi ia tidak bisa menjelaskan bagaimana.

Sebenarnya Adinda sudah mulai menarik diri. Beberapa hari terakhir ia tak lagi menanyakan kabar lebih dulu.

Namun pagi-pagi, foto Robi bersama perempuan di gudang itu muncul di linimasa seorang teman. Mereka berdua tersenyum, bahu bersentuhan.

Robi lupa bahwa temannya itu juga berteman dengan Adinda di Facebook. Foto itu hanya menjadi titik akhir yang tak bisa dihindari. Tidak ada teriakan. Tidak ada pertanyaan panjang.

Adinda hanya mengirim satu pesan: “Aku sudah bilang, aku susah percaya. Tapi aku mulai percaya padamu. Itu kesalahanku.” Robi mencoba menghubungi, tapi panggilannya tidak pernah diangkat.

Ia memutuskan pergi ke kos-kosan Adinda. Perjalanan tiga jam dengan bus, tanpa kabar. Hujan turun ketika ia tiba. Di perjalanan, bus melewati Paroki Nele.

Lampu-lampu di halaman gereja menyala redup dalam gerimis. Robi menunduk. Adinda membuka pintu, mata sembab. Ia tidak mempersilakan masuk.

“Apa yang kau cari di sini?”
“Maaf. Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf.”
“Ya. Kau tidak pantas.”

Pintu tertutup. Robi berdiri di sana, basah kuyup, sampai lampu kamar Adinda padam.

Ia kembali ke kota dan mencoba melanjutkan hidup. Tapi ia tidak bisa melupakan bagaimana Adinda tersenyum saat pertama mereka bertemu, bagaimana ia meletakkan kepalanya di bahu Robi di taman kecil dekat kos, di bawah pohon flamboyan.

Kenangan itu menusuk setiap kali ia ingat bahwa ia telah membuangnya karena alasan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan.

Tiga bulan kemudian, Adinda mengirim pesan. Bukan untuk kembali, tetapi untuk mengambil buku yang tertinggal. Robi datang. Mereka duduk di kafe yang sama.

Adinda terlihat lebih kurus, tapi senyumnya sama. “Aku tidak datang untuk merayu,” kata Robi. “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”  Adinda menunggu.

“Dulu aku mengira aku mencintaimu,” lanjut Robi. “Sekarang aku mengerti. Yang aku kejar selama ini bukan kamu. Tapi sensasi memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Dan ketika kenyataan menjadi sulit, aku lari.”

Adinda memainkan sedotan di gelas es teh. “Aku juga salah,” katanya pelan. “Aku tahu kau mencari aku dua bulan.

Tapi aku tidak pernah bertanya: kau mencari aku karena aku, atau karena kau butuh sesuatu untuk diyakini? Aku terlalu cepat percaya pada kebaikanmu.”
Robi menatap meja.
“Aku memaafkanmu,” kata Adinda. “Bukan karena kita bisa kembali. Aku hanya capek.” Mereka tidak berpelukan. Tidak ada janji baru.

Ketika senja datang lagi, mereka berpisah di depan kafe. Robi berjalan ke arah timur, Adinda ke barat. Di kejauhan, lonceng gereja berbunyi.

Seperti yang dulu mereka dengar bersama. Kini bunyinya lain: bukan panggilan untuk berkumpul, tapi sekadar penanda waktu yang terus berjalan.

Robi tidak berhenti. Ia sempat menoleh sekilas ke arah gereja tua di ujung jalan. Bangku paling belakang, tempat ia pertama kali melihat Adinda, kini kosong.

Ia membayangkan dirinya duduk di sana, lelah setelah mengecat pagar, mata mengembara tanpa tujuan. Saat itu ia tidak sedang mencari apa pun. Tapi kemudian ia melihat, dan ia memutuskan untuk mencari.

Di langit yang sama, senja mulai memudar. Robi membalikkan wajah dan terus berjalan. Ia tidak menoleh ke belakang.

Maumere,  April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *