Berita Berkembang
Kab. Sikka

Gempa Flores,55 Orang Meninggal, 7.670 Warga Terdampak, Polda NTT Berhasil Tembus Wilayah Terisolir

Diperbarui

Kapolda NTT Irjen pol Rudy Darmoko bersama jajarannya saat mengelar Jumpa pers,Minggu 16 Agustus 2026

KUPANG.NW.id – Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mempercepat penanganan pascagempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026).

Hingga Minggu (16/8/2026) pukul 18.00 WITA, tercatat 55 orang meninggal dunia, 67 orang luka berat dan 123 orang mengalami luka ringan.

Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko mengatakan, data tersebut masih bersifat dinamis karena proses pendataan korban terus dilakukan.

“Data ini dinamis. Data yang masuk di Posko Polda NTT yang meninggal sekarang berjumlah 55 orang, kemudian luka berat 67 orang dan luka ringan 123 orang,” ujar Rudi dalam konferensi pers di Mapolda NTT, Minggu (16/8/2026).

Gempa yang berpusat di lepas pantai Mbay, Kabupaten Nagekeo, tersebut berdampak pada tujuh kabupaten dengan 38 titik terdampak dan 7.670 warga.

Menurut Rudi, wilayah dengan dampak paling berat berada di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Tiga Wilayah Terisolir Berhasil Ditembus

Polda NTT bersama TNI, pemerintah daerah, BNPB, Basarnas dan unsur terkait terus membuka akses menuju wilayah yang terisolir akibat longsor dan kerusakan infrastruktur.

Pada hari kedua penanganan, tiga wilayah berhasil ditembus, yakni Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur; wilayah Reo, Manggarai; serta Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Manggarai.

Di Lamba Leda Utara, petugas berhasil masuk sekitar pukul 05.00 WITA setelah sebelumnya akses tertutup longsor.

“Kapolres beserta tim berhasil masuk ke lokasi setelah sebelumnya terisolir karena longsor,” kata Rudi.

Petugas langsung menyalurkan makanan, minuman dan obat-obatan kepada masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh bantuan.

Bahkan, seorang ibu yang mengalami pendarahan setelah melahirkan secara prematur berhasil dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Nagekeo Masih Terisolir

Berbeda dengan sejumlah wilayah lainnya, akses menuju beberapa lokasi di Kabupaten Nagekeo masih menghadapi kendala.

Rudi mengatakan komunikasi dengan personel di Nagekeo masih terputus-putus karena jaringan telekomunikasi dan listrik belum stabil.

“Kabupaten Nagekeo memang kami juga agak sedikit komunikasi karena saluran komunikasi maupun listrik di sana belum stabil,” jelasnya.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Desa Tenda Kinde, Kecamatan Wolowae. Berdasarkan laporan yang diterima, ratusan warga masih mengungsi secara mandiri di Kantor Desa Tenda Kinde dan membutuhkan bantuan.

Kapolda meminta Kapolres Nagekeo segera turun untuk memastikan kondisi masyarakat sekaligus membuka akses bantuan.

10 Unit Starlink Dikirim ke Nagekeo

Untuk mengatasi kendala komunikasi, Mabes Polri akan mengirimkan 10 unit Starlink ke wilayah Nagekeo.

Perangkat tersebut diharapkan memperkuat komunikasi petugas di lokasi bencana sehingga laporan dan koordinasi bantuan dapat dilakukan lebih cepat.

“Karena memang untuk komunikasi terkendala sekali. Saya coba beberapa kali hubungi anggota di sana tapi sulit tersambung,” ungkap Rudi.

Polda NTT juga mendapat dukungan satu pesawat untuk mendistribusikan bantuan, tambahan 100 personel Brimob berkemampuan SAR, serta Tim DVI Pusdokkes Polri sebanyak 14 personel dan 10 ekor anjing pelacak.

Selain wilayah daratan, aparat juga berhasil menjangkau masyarakat di Pulau Palue yang sebelumnya sempat terisolir.

Bantuan makanan dan minuman disalurkan melalui Ditpolairud Polda NTT. Petugas juga mengevakuasi dua warga yang mengalami luka berat dari Pulau Palue untuk mendapatkan perawatan di RSUD TC Hillers Maumere.

Polisi Jaga Rumah Warga yang Mengungsi

Kapolda NTT memastikan keamanan rumah dan harta benda masyarakat yang ditinggalkan untuk mengungsi.

Menurutnya, menjaga aset masyarakat merupakan bagian dari tugas kepolisian selama kondisi darurat.

“Kami berkewajiban untuk mengamankan aset-aset masyarakat yang mengungsi,” tegasnya.

Rudi meminta masyarakat mengutamakan keselamatan dengan segera menuju lokasi pengungsian yang aman, sementara aparat terus melakukan patroli di kawasan yang ditinggalkan warga.

Ende Tiadakan Perayaan HUT RI

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Ende memutuskan meniadakan seluruh kegiatan seremonial dan hiburan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.

Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda mengatakan keputusan tersebut diambil karena masyarakat masih berada dalam kondisi darurat pascagempa.

Upacara pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih tetap dilaksanakan secara terbatas bagi unsur TNI, Polri dan ASN di Stadion Marilonga Ende.

Bupati mengajak masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk saling menguatkan dan bersama-sama mendoakan agar Flores segera pulih dari bencana.

Hingga Minggu malam, proses pendataan korban dan distribusi bantuan masih terus dilakukan.

Polda NTT menegaskan prioritas utama adalah menyelamatkan korban, membuka akses wilayah terisolir, menyalurkan makanan, air dan obat-obatan, serta memastikan keamanan masyarakat terdampak gempa.

Konten bersifat informatif dan bukan nasihat hukum.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!