Berita Berkembang
Kota Kupang

Tumpahan MFO Cemari Perairan Semau, Ditpolairud Polda NTT Kawal Penanganan hingga Tuntas

Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution,

KUPANG.NW.id – Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur terus melakukan pemantauan dan koordinasi intensif dalam menangani tumpahan minyak yang terjadi di perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang.

Tumpahan minyak tersebut diduga berasal dari kebocoran yang terjadi saat proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas.

Hingga saat ini, sekitar lima hingga enam ton minyak telah berhasil diamankan dari wilayah perairan dan pesisir yang terdampak.

Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, mengatakan pihaknya langsung menerjunkan personel untuk melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) setelah menerima informasi mengenai dugaan pencemaran laut di wilayah tersebut.

“Begitu menerima informasi terkait dugaan pencemaran laut, personel Ditpolairud langsung melakukan pengecekan dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan sumber kejadian, dampak yang ditimbulkan, serta langkah-langkah penanganan yang harus segera dilakukan,” ujar Kombes Pol. Irwan Nasution.

Berdasarkan hasil pulbaket, tumpahan minyak berdampak pada sejumlah wilayah pesisir di Kecamatan Semau.

Beberapa wilayah yang terpantau terdampak antara lain Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, dan Batuinan.

Insiden tersebut terjadi saat proses pengangkatan bangkai KM Kuala Emas yang dilaksanakan oleh konsorsium pelaksana pekerjaan bawah air menggunakan Crane Barge Hong Bang 6.

Sebelumnya, proses pemotongan pada sejumlah bagian kapal telah dilakukan tanpa ditemukan adanya indikasi kebocoran.

Namun, pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA, saat dilakukan pemotongan pada bagian lambung kiri kapal di area antara Palka 2 dan Palka 3, terjadi kebocoran yang menyebabkan keluarnya minyak yang diduga merupakan Marine Fuel Oil (MFO).

Menurut keterangan pihak kontraktor, lokasi kebocoran tersebut berada di luar perkiraan teknis.

Area yang dipotong sebelumnya diperkirakan merupakan tangki balas kapal yang tidak dilalui jalur bahan bakar.

Menindaklanjuti kejadian itu, pihak pelaksana proyek bersama instansi terkait segera melakukan berbagai langkah mitigasi guna mencegah penyebaran pencemaran ke wilayah yang lebih luas.

“Prioritas utama saat ini adalah mengendalikan dan membersihkan tumpahan minyak agar tidak berdampak lebih jauh terhadap lingkungan laut, aktivitas masyarakat pesisir, maupun ekosistem yang ada di wilayah Semau,” jelas Kombes Pol. Irwan

Dalam proses penanganan, PT Nusantara Salvage Indonesia selaku pihak yang terlibat dalam pekerjaan pengangkatan bangkai kapal telah menambah armada penanganan dari dua menjadi empat unit perahu.

Selain itu, dilakukan pemasangan oil boom, penggunaan oil absorbent pads, penyemprotan oil dispersant, serta penyedotan minyak yang terperangkap di sekitar lokasi kejadian.

Kegiatan pembersihan juga dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat di sejumlah titik pesisir, termasuk kawasan Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo, hingga Pulau Kambing.

Ditpolairud Polda NTT terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Semau, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN), Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta sejumlah instansi terkait lainnya untuk memastikan proses penanganan berjalan secara optimal.

Selain penyisiran melalui jalur laut, pemantauan juga dilakukan melalui jalur darat guna mengantisipasi kemungkinan adanya sebaran minyak di wilayah pesisir lainnya.

“Kami bersama instansi terkait akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan di lapangan.

Penyisiran lanjutan akan dilakukan pada titik-titik pesisir yang berpotensi terdampak guna memastikan proses pembersihan berjalan efektif,” tegasnya.

Dirpolairud Polda NTT juga mengimbau masyarakat pesisir agar tetap tenang dan segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan sisa-sisa tumpahan minyak di kawasan pantai maupun perairan sekitar.

Saat ini, pihak kontraktor masih melakukan investigasi teknis untuk memastikan sumber pasti kebocoran MFO, sembari melanjutkan kegiatan mitigasi dan pembersihan guna meminimalkan dampak terhadap lingkungan.

Polda NTT memastikan akan terus mengawal seluruh proses penanganan hingga kondisi perairan kembali normal serta aman bagi masyarakat dan ekosistem laut di kawasan Pulau Semau.

Konten bersifat informatif dan bukan nasihat hukum.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!