KUPANG, NW.id – Di tengah gemerlap pembangunan kota, ada kisah sunyi yang nyaris tak terdengar. Di pinggiran timur Kota Kupang, sepasang suami-istri membangun sekolah untuk anak-anak miskin hanya bermodal kepedulian—tanpa gedung layak, tanpa bantuan pembangunan, dan dengan gaji guru yang jauh dari standar.
Dari kegiatan bercerita dan bernyanyi bersama anak-anak setiap sore, lahirlah SD dan PAUD Komodo Inerie di wilayah Bimoku, Kota Kupang.
Sekolah ini kini menjadi harapan bagi 272 siswa dari keluarga prasejahtera—anak pedagang sayur, nelayan, sopir, hingga buruh harian.
Kepala sekolah sekaligus pengelola PAUD, Yustina Longa, mengisahkan, semuanya bermula pada 2014 saat ia pindah ke wilayah tersebut.
“Anak-anak usia 3 sampai 6 tahun datang setiap sore ke rumah, minta saya bercerita dan bernyanyi. Dari situ masyarakat sadar, di sini memang butuh sekolah,” ungkapnya.
Nyaris Celaka, SD Akhirnya Dibuka
Tahun 2015, PAUD Komodo Inerie resmi dibuka karena lokasi PAUD terdekat terlalu jauh. Namun persoalan baru muncul saat anak-anak harus melanjutkan ke SD yang letaknya jauh dan mengharuskan mereka menyeberang jalan raya yang ramai.
“Pernah ada anak yang terserempet kendaraan. Itu yang membuat kami nekat membuka SD pada 2019,” kata Yustina.
SD Komodo Inerie dibuka dengan 23 siswa. Kini jumlahnya melonjak menjadi 272 orang—angka yang menunjukkan betapa besar kebutuhan dan kepercayaan masyarakat.
Nama Komodo Inerie dipilih sebagai simbol persatuan, menggabungkan ikon Komodo dari Manggarai dan Gunung Inerie di Ngada.
Dari Kamar Kos ke Kandang Ayam
Awalnya, proses belajar mengajar dilakukan di kamar kos. Aturan pendirian sekolah swasta yang mengharuskan kepemilikan lahan membuat yayasan harus meminjam dana koperasi untuk membeli tanah sekitar 1.000 meter persegi.
Izin operasional baru terbit pada 2020, dan sejak 2021 sekolah mulai menerima Dana BOS. Namun hingga kini, belum pernah ada bantuan pembangunan gedung.
Permintaan serupa datang dari wilayah Matani, Kabupaten Kupang. Pada 2021, dibuka kelompok belajar dengan memanfaatkan kandang ayam yang direnovasi secara gotong royong menjadi ruang kelas darurat.
“Kalau hujan bocor, dinding berlubang. Tapi orang tua tetap bersyukur karena anak-anak bisa sekolah dekat rumah,” ujarnya.
Gaji Guru Tak Sampai Rp1 Juta
Sekolah ini didukung sekitar 20 tenaga pendidik dan pegawai. Namun kesejahteraan mereka memprihatinkan.
“Dulu gaji guru Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Sekarang sekitar Rp400 ribu, itu pun belum sampai Rp1 juta,” beber Yustina.
Dengan iuran sekolah hanya Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per bulan, banyak orang tua menunggak pembayaran. Bahkan puluhan ijazah siswa belum diambil karena keterbatasan biaya.
Pendiri sekolah, Ambros Pan, menegaskan sekolah ini berdiri karena kebutuhan nyata masyarakat.
“Jumlah siswa di kelas jauh justru lebih banyak dari sekolah induk. Kami sangat berharap ada dukungan pemerintah agar fasilitas pendidikan lebih layak,” tegasnya.
MBG Jadi Penopang Harapan
Di tengah segala keterbatasan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyelamat bagi banyak siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan.
“Anak-anak sangat terbantu. Kami berharap program ini terus berlanjut,” kata Yustina.
Di balik ruang kelas darurat dan gaji minim, SD dan PAUD Komodo Inerie tetap bertahan.
Dari dongeng sore hingga ratusan siswa, sekolah ini menjadi bukti bahwa pendidikan tak selalu lahir dari kemewahan—melainkan dari hati yang tak tega melihat anak-anak pinggiran tertinggal.






