KUPANG.NW.id – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, secara resmi membuka Festival Budaya Lamaholot yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional, Expo Lamaholot, serta pelantikan pengurus Keluarga Besar Lamaholot (KABELA) Kupang di GOR Oepoi, Jumat (10/4/2026).
Dalam sambutannya, Johni menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk merefleksikan identitas dan memperkuat arah pembangunan masyarakat Lamaholot.
“Momentum ini bukan sekadar pertemuan seremonial, tetapi ruang untuk menyapa akar, menyadari jati diri, dan meneguhkan arah perjalanan sebagai orang Lamaholot,” ujarnya.
Ia menjelaskan, identitas Lamaholot tidak hanya merujuk pada asal geografis, tetapi juga mencerminkan cara hidup, cara pandang, serta relasi sosial yang kuat dalam komunitas.
Menurutnya, orang Lamaholot hidup dalam ikatan “lewo tana” atau kampung halaman yang menjadi sumber identitas dan harga diri. Ikatan tersebut melahirkan solidaritas dan rasa tanggung jawab bersama yang harus dikelola sebagai kekuatan, bukan sekat pemisah.
Selain itu, Johni menyoroti kuatnya ketaatan masyarakat Lamaholot terhadap adat istiadat. Ia menegaskan, adat bukan sekadar aturan, melainkan jalan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan.
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan zaman.
“Kita tidak boleh kehilangan makna hanya karena terlalu terikat pada bentuk. Adat harus menjadi kekuatan yang memerdekakan, bukan yang membebani,” tegasnya.
Ia juga menilai masyarakat Lamaholot memiliki kedalaman spiritualitas yang tinggi, namun tetap terbuka terhadap perbedaan.
Sikap tersebut dinilai sebagai bentuk kedewasaan budaya yang perlu terus dipertahankan di tengah dinamika modern.
Di sisi lain, Wagub menyebut karakter pekerja keras sebagai ciri khas masyarakat Lamaholot yang lahir dari kondisi alam dan berbagai tantangan hidup.
“Keberhasilan banyak putra-putri Lamaholot hari ini adalah buah dari kerja keras dan ketekunan. Nilai ini harus terus diwariskan kepada generasi muda,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat Lamaholot, khususnya yang berada di Kota Kupang, untuk tidak melupakan akar budaya serta berperan aktif dalam membangun daerah asal.
“Kita harus menjadi penghubung antara kampung dan kota, antara tradisi dan modernitas, serta membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Wagub juga mendorong KABELA agar menjadi wadah yang tidak hanya mempererat kebersamaan, tetapi juga mendorong pertumbuhan, jejaring, serta pembangunan masa depan masyarakat Lamaholot.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, perwakilan Pemerintah Kabupaten Alor, perwakilan Pemerintah Kota Kupang, Ketua KABELA Don Ara Kian, tokoh adat, serta para pelaku UMKM dari wilayah Lembata, Solor, Flores Timur, Adonara, dan Alor.






