KUPANG,NW.id - Bank NTT telah menyiapkan dua skema penangguhan kredit bagi nasabah yang terdampak gempa bumi di Pulau Flores.
Namun, hingga kini belum ada satu pun debitur yang mengajukan permohonan keringanan tersebut.
Direktur Utama (Dirut) Bank NTT Charlie Paulus menjelaskan, dua skema itu disiapkan untuk menangani nasabah yang terdampak bencana gempa bumi di Pulau Flores.
Menurut Charlie, Bank NTT bergerak cepat merespons kondisi darurat pascagempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Bank NTT juga telah mengeluarkan imbauan kepada para debitur yang terdampak agar memanfaatkan skema tersebut untuk meringankan beban para penyintas.
"Dari mereka itu belum ada permintaan resmi untuk merestrukturisasi mereka punya kredit tapi kami sudah siapkan jauh-jauh hari programnya, bisa penangguhan pembayaran pokok, atau penangguhan pembayaran pokok dan bunga," jelas Charlie, Senin (7/9/2026)
Charlie menjelaskan, ada dua pilihan skema yang disiapkan Bank NTT.
Debitur dapat memilih penangguhan pembayaran pokok atau penangguhan pembayaran pokok dan bunga.
Untuk penangguhan pembayaran pokok, skema yang disiapkan berlaku selama satu bulan.
Sementara jika debitur meminta penangguhan pembayaran pokok dan bunga, waktunya diberikan selama tiga bulan.
"Kalau dia minta penangguhan pokok saja maka skema yang disiapkan hingga satu bulan. Sementara penangguhan pokok dan bunga selama tiga bulan," ujar Charlie.
"Kalau dia minta penangguhan pokok dan bunga tidak bayar ya kita tidak bisa lama-lama juga ya, kita siapkan skemanya tiga bulan," tambahnya.
Charlie menyebut Bank NTT masih akan mengevaluasi efektivitas skema tersebut.
Namun, jika dampak gempa tergolong parah, bank siap menyiapkan skema yang lebih baik.
"Apakah ini efektif sudah bisa menolong mereka atau tidak? Kan ini kita juga belum tahu dampaknya seperti apa.
Kalau yang parah kan berarti perlu skema yang lebih bagus," ungkapnya.
Menurut dia, dalam kondisi bencana, kebijakan pelonggaran pembayaran pinjaman bisa dihadirkan baik oleh regulator maupun bank.
Saat ini Bank NTT proaktif memantau dan mendata usaha nasabah yang terdampak. Beberapa wilayah seperti Borong disebut menjadi daerah paling parah terdampak gempa.
"Tapi sejauh ini mereka belum ajukan tapi kami data nasabah yang terdampak.
Mereka belum ajukan tapi kami sudah lihat tempat usaha mereka rusak," kata Charlie.
Ia menjelaskan, nasabah Bank NTT di wilayah Flores cukup banyak. Namun, hingga saat ini belum ada nasabah yang mengajukan skema penangguhan yang telah disiapkan.
"Kurang lebih yang sudah kami data ada sekitar 52 atau 53 nasabah yang terdampak. Tapi mereka belum ajukan skema yang disiapkan Bank NTT," tukas dia.
Sebelumnya, Direktur Kredit Bank NTT, Aloysius Geong, mengatakan data debitur terdampak bencana ini nantinya akan disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas industri keuangan.
Bank NTT berharap skema keringanan ini dapat membantu meringankan beban masyarakat Flores yang sedang bangkit dari dampak gempa
Komentar (0)
Ingin berkomentar? Masuk ke akun pembaca Anda.
Belum punya akun? Daftar gratis
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!