KUPANG.NW.id – Sebanyak 2.783 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengikuti sosialisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank NTT yang digelar bersama DPD I Partai Golkar NTT di Kantor DPD Golkar NTT, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Nusa Tenggara Timur.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengajak pelaku usaha kecil memanfaatkan fasilitas KUR Bank NTT dengan bunga 6 persen.
Menurut Melki, NTT memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama di sektor pertanian, perikanan, peternakan, UMKM, dan hasil hutan.
Potensi tersebut harus diolah di daerah agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Kita punya potensi besar di pertanian, perikanan, UMKM, dan peternakan, termasuk hasil hutan.
Jangan sampai semua hasil yang seharusnya menjadi nilai tambah bagi masyarakat kita malah keluar dari NTT,” ujar Melki.
Ia menegaskan, KUR dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat modal usaha masyarakat.
Karena itu, pelaku UMKM diharapkan menggunakan pembiayaan tersebut secara produktif sehingga usaha kecil dapat berkembang dan naik kelas.
Bank NTT kembali mendapat kesempatan menyalurkan KUR pada 2026 setelah tidak menjalankan program tersebut selama lima tahun.
Tahun ini, Bank NTT memperoleh alokasi KUR reguler sebesar Rp300 miliar.
Selain itu, tersedia pula Rp350 miliar KUR bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk membantu calon pekerja migran memenuhi kebutuhan sebelum berangkat bekerja ke luar negeri.
Melki menargetkan penyaluran KUR tersebut dapat terserap secara optimal hingga Oktober 2026, khususnya bagi pelaku usaha kecil.
“Harapan kita, peningkatan ekonomi masyarakat kecil dapat terwujud,” katanya.
KUR Bukan Bantuan Sosial
Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus mengatakan pihaknya terus memperkuat sistem dan prosedur penyaluran KUR setelah kembali mendapat mandat menjalankan program tersebut.
Menurut Charlie, sejumlah penyesuaian masih dilakukan, termasuk koordinasi dengan Kementerian Keuangan, sehingga penyaluran pada tahap awal belum berjalan maksimal.
Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam memperkenalkan KUR kepada masyarakat.
Bank NTT, kata dia, terbuka bekerja sama dengan partai politik, organisasi keagamaan, organisasi pengusaha, yayasan, gereja, pendamping UMKM hingga penyuluh pertanian.
Charlie menegaskan masyarakat perlu memahami bahwa KUR bukan bantuan sosial, melainkan fasilitas pembiayaan yang wajib dikembalikan.
“KUR itu bukan bansos. KUR itu pinjaman, jadi harus dikembalikan,” tegasnya.
Ia berharap bunga KUR yang relatif rendah dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk menambah modal dan mengembangkan usaha secara produktif.
Di sisi lain, Charlie mengungkapkan adanya ketertarikan sejumlah pengusaha asal Belanda untuk berinvestasi di NTT, khususnya pada sektor industri pakan ternak dan pengolahan hasil laut.
Menurutnya, potensi bahan baku pertanian dan kelautan di NTT menjadi daya tarik bagi investor.
Kehadiran industri besar juga diharapkan dapat membuka ruang bagi UMKM lokal untuk masuk dalam rantai pasok.
“Industri besar itu bagaimanapun perlu pendukung, yaitu UMKM. Tidak mungkin satu industri besar itu bisa berdiri sendiri,” ujarnya.
Ia mencontohkan industri pakan ternak yang membutuhkan pasokan jagung dari petani lokal.
Dengan demikian, UMKM dan petani dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi industri.
Komentar (0)
Ingin berkomentar? Masuk ke akun pembaca Anda.
Belum punya akun? Daftar gratis
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!