LABUAN BAJO, NW.id – Industri bambu di Kabupaten Manggarai Barat terus menunjukkan perkembangan yang membanggakan.
Produk olahan bambu yang dikembangkan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bahkan berhasil menembus pasar internasional, termasuk Polandia.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) saat melakukan kunjungan kerja ke Yayasan Rumah Bambu milik YBLL di Labuan Bajo.
Kunjungan ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya mendampingi Wakil Menteri.
Dalam kesempatan itu, Project Officer YBLL, Septiani Solfriyansi Maro, memaparkan perkembangan industri bambu yang kini semakin diminati pasar dalam maupun luar negeri.
Ia mengungkapkan, YBLL telah mengekspor sekitar 15 ribu batang bambu ke Polandia untuk pembangunan rumah khas NTT.
"Bambu diawetkan terlebih dahulu di Manggarai Barat, kemudian dikarantina di Bali sebelum dikirim ke Polandia. Setibanya di sana, bambu kembali menjalani proses treatment sesuai standar negara tujuan," jelas Septiani.
Selain pasar ekspor, produk bambu YBLL juga banyak diminati sektor perhotelan, PT Haldin, hingga Pamudi Luhur Jakarta yang memesan berbagai produk furnitur berbahan bambu. Saat ini, omzet usaha YBLL hampir mencapai Rp600 juta.
Menurut Septiani, bambu asal Manggarai Barat memiliki keunggulan karena dindingnya lebih tebal sehingga kuat digunakan untuk konstruksi maupun furnitur.
Seluruh bambu diproses melalui tahapan pengeringan dan pengawetan agar memiliki daya tahan tinggi.
Dengan perawatan rutin, tiang bambu mampu bertahan hingga 10 tahun, sedangkan atap bambu sekitar lima tahun.
YBLL juga terus mengembangkan budidaya bambu melalui sistem HBL dengan masa panen ideal tiga hingga lima tahun.
Berbagai produk yang dihasilkan memiliki spesifikasi sesuai kebutuhan pasar, mulai dari papan bambu hingga berbagai perlengkapan bangunan dan furnitur.
Meski demikian, Septiani mengakui tingginya biaya operasional masih menjadi tantangan utama, terutama biaya pengangkutan bambu dari desa, ongkos distribusi, dan harga perekat yang memengaruhi biaya produksi.
Ke depan, YBLL berencana menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat riset dan pengujian kualitas bambu agar mampu bersaing lebih luas di pasar global.
Wakil Gubernur NTT mengaku bangga melihat kreativitas generasi muda yang mampu mengolah potensi bambu lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan berkelas internasional.
"Saya sangat mengapresiasi kreativitas pemuda-pemudi di Yayasan Bambu Lingkungan Lestari. Perkembangannya luar biasa karena produk bambu dari Manggarai Barat kini sudah dipasarkan hingga ke luar negeri.
Ini menjadi kebanggaan bagi NTT. Kita harus terus mempromosikan produk ini agar semakin banyak pesanan dengan tetap menjaga kualitasnya," ujar Wakil Gubernur.
Ia berharap NTT dapat dikenal sebagai daerah yang identik dengan rumah bambu, sehingga kekayaan bambu yang dimiliki mampu menjadi identitas daerah sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
"Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, dijaga kualitasnya, dan dipromosikan secara luas, bambu NTT akan semakin dikenal di pasar dunia," pungkasnya
Komentar (0)
Ingin berkomentar? Masuk ke akun pembaca Anda.
Belum punya akun? Daftar gratis
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!