SIKKA.NW.id – Semangat emansipasi perempuan yang diwariskan Raden Ajeng Kartini terus hidup hingga ke pelosok desa.
Di Desa Tana Duen, Kabupaten Sikka, para mama-mama kini bangkit dan berdaya melalui inovasi pengolahan sampah menjadi sumber ekonomi lewat Program SAPA TANA (Sampah Jadi Pangan dan Tanaman).
Program yang diinisiasi Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere ini membuka ruang baru bagi perempuan desa untuk berkembang, tidak hanya dalam lingkup domestik, tetapi juga dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Salah satu peserta, Elisabeth Wisang, mengaku hidupnya mengalami perubahan sejak bergabung dalam program tersebut.
“Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga yang bergantung pada penghasilan suami. Sekarang kami sudah bisa berkontribusi untuk ekonomi keluarga,” ungkapnya, Selasa (21/04/2026).
Program SAPA TANA mulai digagas pada 2025 melalui pemetaan sosial dan diskusi bersama masyarakat.
Dari proses tersebut, ditemukan potensi besar Desa Tana Duen, mulai dari lahan pertanian yang subur, persoalan sampah rumah tangga, hingga peluang pemberdayaan perempuan yang sebelumnya belum dimaksimalkan.
Melalui program ini, sampah rumah tangga diolah menjadi pupuk organik yang bernilai guna bagi pertanian lokal.
Selain berdampak pada kebersihan lingkungan, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi serta penguatan kapasitas perempuan desa.
Peserta lainnya, Maria Leni, menilai program ini membawa dampak sosial yang signifikan.
“Sejak ada SAPA TANA, saya punya banyak teman dan bisa aktif dalam kegiatan kelompok,” ujarnya.
Program ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Kangae, serta Pemerintah Desa Tana Duen yang terus memberikan pendampingan berkelanjutan.
Area Manager Commrel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
“Melalui SAPA TANA, kami ingin mendorong kemandirian ekonomi perempuan sekaligus menjaga lingkungan. Perempuan adalah motor penggerak pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perempuan, termasuk di desa, memiliki peran penting sebagai agen perubahan.
Dari aktivitas sederhana mengolah sampah, kini lahir kontribusi nyata bagi ekonomi keluarga dan keberlanjutan lingkungan.
Program SAPA TANA menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil—dari desa, oleh perempuan yang berani maju.






