Sabu  

Saat Perbedaan Tak Lagi Jadi Sekat, 1.000 Warga Raijua Rayakan Natal Oikumene

SABU RAIJUA,NW.id — Di tengah menguatnya isu intoleransi dan polarisasi sosial di berbagai daerah, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, justru memperlihatkan wajah lain Indonesia.

Sekitar 1.000 umat dan masyarakat lintas denominasi gereja dan Katolik berkumpul dalam Perayaan Natal Oikumene Tingkat Kecamatan Raijua Tahun 2025 yang digelar di Halaman Kantor Kecamatan Raijua, Jumat (9/1/2026).

Perayaan Natal yang diinisiasi Pemerintah Kecamatan Raijua itu melibatkan gereja-gereja lintas denominasi, mulai dari GMIT, GBI, GSJA, GMMI, hingga umat Katolik.

Ibadah berlangsung dalam suasana rukun dan penuh sukacita, menegaskan bahwa perbedaan iman tidak menjadi penghalang untuk merawat persaudaraan.

Ketua Panitia Natal, Yulianus Baki Boni, dalam sambutan yang dibacakan oleh protokoler acara, menegaskan bahwa Natal bukan sekadar seremoni tahunan.

BACA JUGA:  Natal Nasional 2025, Prabowo Bicara Persatuan, Gubernur NTT Soroti Stunting dan Kemiskinan Keluarga

Natal, menurutnya, adalah panggilan etis untuk melawan intoleransi, ujaran kebencian, dan hoaks yang kerap memecah belah masyarakat.

“Natal mengajak kita membangun persaudaraan, berbagi kasih, serta menghadirkan damai di tengah keberagaman,” ujarnya.

Tak hanya berhenti pada pesan moral, perayaan Natal Oikumene Raijua juga diwujudkan dalam aksi nyata.

Acara diawali dengan penanaman pohon secara simbolis di lingkungan Kantor Kecamatan Raijua sebagai ungkapan syukur atas alam yang dianugerahkan Tuhan sekaligus menandai dimulainya musim tanam bagi masyarakat setempat.

Gerakan tersebut menjadi bagian dari ajakan Pemerintah Kecamatan Raijua kepada warga untuk menjalankan gerakan satu keluarga menanam satu pohon, demi menjaga keberlanjutan lingkungan dan ketahanan sumber mata air di Pulau Raijua.

BACA JUGA:  Penyidik Tipidsus Kejari Sabu Sita Rp 30 Juta dari Direktur PT TJL Terkait Kasus Korupsi Pabrik Rumput Laut 2018

Ibadah Natal dipimpin secara oikumene, dengan khotbah disampaikan oleh Pdt. Setiawan Patipaelohy, M.Th, Ketua Majelis Jemaat GMIT Paulus Nadega. Dalam kotbahnya yang diambil dari Matius 7:15–23, ia menegaskan bahwa Natal adalah peristiwa inkarnasi Allah yang menyelamatkan manusia tanpa sekat perbedaan.

“Allah hadir bukan untuk memecah belah, tetapi menyelamatkan seluruh umat manusia. Karena itu, hidup dalam kebenaran dan integritas menjadi panggilan utama orang percaya,” tegasnya.

Plt. Camat Raijua, Djibrael Radja Kudji, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemerintah dan gereja adalah mitra strategis yang harus berjalan beriringan dalam melayani masyarakat.

BACA JUGA:  Jaga Natal Damai 2025, Banser NTT Siagakan Ratusan Anggota di Gereja

Natal, menurutnya, menjadi momentum refleksi untuk terus berbenah dan berkontribusi positif bagi pembangunan daerah.

Pesan senada disampaikan Sekretaris Panitia Natal, Andreas A. R. Koro. Ia menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling melukai, apalagi merusak persatuan bangsa.

“Kita hidup dalam bingkai NKRI. Kerukunan harus dirawat bukan hanya dalam seremoni, tetapi diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari,” ujarnya.

Perayaan Natal Oikumene Raijua turut dihadiri Anggota DPRD Sabu Raijua Fraksi NasDem Markus Tuka, A.Md, para tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda lintas agama, pensiunan guru dan pegawai, serta para kepala sekolah SMA, SMP, dan SD se-Kecamatan Raijua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *