TARAKAN.NW.id – Kunjungan kerja Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Kalimantan Utara (Kaltara) dalam rangka studi tiru Pajak Kendaraan di Atas Air (PKAA) membuka peluang kerja sama perdagangan komoditas unggulan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi kedua provinsi.
Kedua provinsi sepakat menjajaki penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) misi dagang pada 2027.
Kesepakatan tersebut dibahas Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, bersama Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum,Pada Jumat 23 Oktober 2026
Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas pasar komoditas unggulan, meningkatkan perdagangan antardaerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kedua provinsi.
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengatakan studi tiru yang dilakukan di Kaltara memberikan banyak pelajaran penting, khususnya mengenai sistem pendataan dan pemungutan pajak kendaraan di atas air untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurut Johni, NTT memiliki potensi besar dalam sektor transportasi laut. Diperkirakan sekitar 600 kapal beroperasi di wilayah NTT, mulai dari kapal wisata hingga kapal penyeberangan yang menghubungkan sejumlah kabupaten.
“Banyak hal yang sudah kita pelajari dalam studi tiru ini. Mudah-mudahan pengalaman tersebut segera kita tindak lanjuti sehingga penerapan pajak kendaraan di atas air di NTT dapat dipersiapkan dengan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peluang kerja sama dengan Kaltara tidak hanya terbatas pada sektor perpajakan, tetapi juga mencakup perdagangan komoditas unggulan kedua daerah.
Sejumlah produk NTT yang berpotensi dipasarkan ke Kaltara antara lain dendeng, abon, se'i, kacang mete, kemiri, dan asam. Komoditas tersebut dinilai memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar di Kalimantan Utara.
Johni mengungkapkan, rencana misi dagang tersebut telah dibicarakan dengan pihak terkait dan akan dilaporkan kepada Gubernur NTT untuk ditindaklanjuti melalui penyusunan MoU.
“Kalau kerja sama ini berjalan, tentu akan membawa manfaat ekonomi bagi kedua provinsi. Produk-produk NTT bisa dipasarkan ke Kaltara, sementara NTT juga dapat memenuhi kebutuhan komoditas dari Kalimantan Utara,” katanya.
MoU Ditargetkan Ditandatangani di Labuan Bajo ,Johni berharap penandatanganan MoU misi dagang dapat dilaksanakan pada April atau Mei 2027 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Selain menjadi lokasi penandatanganan kerja sama, Labuan Bajo diharapkan menjadi ruang promosi potensi wisata dan produk unggulan NTT kepada para pelaku usaha dari Kaltara.
Pemerintah kedua provinsi juga berencana melibatkan perusahaan, pelaku usaha, serta UMKM agar kerja sama tersebut menghasilkan transaksi perdagangan nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Gubernur Kaltara, Zainal A. Paliwang, menyambut positif rencana kerja sama perdagangan dengan NTT.
Ia mencontohkan pengalaman Kaltara menjalin misi dagang bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu model yang dapat dikembangkan.
Menurut Zainal, setiap daerah memiliki komoditas unggulan dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, perdagangan antardaerah dapat menjadi peluang untuk saling melengkapi sekaligus memperkuat perekonomian.
Ia mendorong agar rancangan MoU segera disiapkan sehingga pembahasan teknis dapat dilakukan pada awal 2027 dan kerja sama dapat segera direalisasikan setelah penandatanganan.
Melalui rencana tersebut, NTT dan Kaltara diharapkan mampu membangun kemitraan strategis di bidang perdagangan, memperluas akses pasar produk lokal, serta meningkatkan daya saing UMKM.
Kerja sama ini sekaligus menjadi peluang bagi kedua provinsi untuk memperkuat hubungan antardaerah, tidak hanya melalui optimalisasi PAD dari sektor pajak kendaraan di atas air, tetapi juga melalui perdagangan yang saling menguntungkan.
Komentar (0)
Ingin berkomentar? Masuk ke akun pembaca Anda.
Belum punya akun? Daftar gratis
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!