KUPANG.NW.id — Universitas Persatuan Guru 1945 Nusa Tenggara Timur (UPG 1945 NTT) menggelar Rapat Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka Wisuda Sarjana ke-10 di Ballroom Hotel Harper Kupang, Rabu (9/9/2026).
Sebanyak 439 mahasiswa resmi menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan pendidikan di UPG 1945 NTT.
Prosesi wisuda dipimpin langsung oleh Rektor UPG 1945 NTT, Ully J. Riwu Kaho.
Dalam sambutannya, Ketua Badan Pengurus UPG 1945 NTT, Dr. Samuel Haning, mengungkapkan perjalanan panjang lembaga pendidikan tersebut dari sebelumnya berada dalam naungan PGRI hingga bertransformasi menjadi UPG 1945 NTT.
Samuel mengatakan, perubahan tersebut tidak terlepas dari berbagai perjuangan, gagasan dan keberanian untuk melakukan pembenahan agar lembaga pendidikan itu terus berkembang.
"Saya tidak ingin lembaga ini mati ketika saya sebagai rektor.
Karena itu, kami mengumpulkan orang-orang dan meminta ide-ide cemerlang untuk membangun lembaga ini," ujar Samuel di hadapan para wisudawan dan orang tua.
Menurutnya, perubahan kemudian dilakukan secara bertahap, mulai dari pengadaan lahan, promosi kampus hingga pembangunan sarana dan prasarana pendidikan.
Ia mengakui perjalanan UPG 1945 NTT tidak selalu mudah.
Berbagai persoalan bahkan sempat berujung pada proses hukum yang panjang. Namun, persoalan tersebut akhirnya diselesaikan melalui proses perdamaian dan pencabutan perkara.
Samuel menyebut 6 Juni dan 7 Juni sebagai momentum penting dalam proses perubahan kelembagaan hingga akhirnya secara resmi menjadi UPG 1945 NTT.
Dalam kesempatan itu, Samuel juga mengenang dukungan sejumlah tokoh yang menurutnya turut membantu UPG 1945 NTT ketika menghadapi masa-masa sulit.
Ia secara khusus menyebut Wakil Gubernur NTT Dr. Jhoni Asadoma dan Viktor Laiskodat yang disebutnya selalu memberikan dukungan agar lembaga tersebut tetap berdiri dan berkembang.
Samuel berpesan kepada para alumni agar tidak melupakan orang-orang yang telah memberikan kontribusi dalam perjalanan kampus.
"Jangan pernah melupakan Jhoni Asadoma dan Viktor Laiskodat.
Simpan terus di dada dan di hati, di mana pun kalian berada," pesannya.
Samuel kemudian memberikan pesan khusus kepada 439 lulusan agar tidak minder dengan latar belakang sebagai anak NTT.
Ia menegaskan, kesederhanaan keluarga maupun tempat seseorang dilahirkan tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih masa depan.
"Jangan minder menjadi anak NTT. Ada yang lahir dari desa dan keluarga sederhana.
Jangan tanya kita berasal dari mana, tetapi kita harus menentukan akan menuju ke mana," katanya.
Ia berharap para lulusan UPG 1945 NTT tidak berhenti hanya dengan memperoleh ijazah.
Para sarjana harus mampu menciptakan lapangan kerja, menguasai teknologi dan memberikan solusi bagi masyarakat.
"NTT membutuhkan anak muda yang berani menjadi pengusaha. NTT membutuhkan pemuda dan alumni yang bermanfaat dalam teknologi. NTT membutuhkan sarjana yang bukan hanya memiliki ijazah, tetapi mampu membawa solusi," tegas Samuel.
Pesan Haru untuk Orang Tua
Samuel juga mengingatkan para wisudawan bahwa keberhasilan mereka tidak terlepas dari perjuangan orang tua.
Ia mengatakan, banyak orang tua bekerja sejak pagi hingga malam, menjual hasil kebun bahkan meminjam uang demi membiayai pendidikan anak.
"Mereka tidak pernah menceritakan kepada kalian betapa berat perjuangan mereka.
Mereka hanya selalu berkata, yang penting anak bisa sekolah," ungkapnya.
Karena itu, Samuel meminta para wisudawan untuk selalu menghormati dan menghargai jasa kedua orang tua.
"Bapak dan mama, terima kasih untuk semua perjuanganmu," tuturnya.
Suasana wisuda semakin meriah ketika Samuel Haning bersama Wakil Gubernur NTT Dr. Jhoni Asadoma, Bupati Kupang Yosef Lede, dan Sekretaris Daerah Kota Kupang turut menyumbangkan lagu untuk menghibur para wisudawan dan orang tua.
Bagi Samuel, wisuda yang berlangsung pada 9 September 2026 juga memiliki makna tersendiri.
Momentum tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi 439 alumni UPG 1945 NTT untuk melangkah lebih jauh dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan NTT, Indonesia, dan masyarakat luas.
Komentar (0)
Ingin berkomentar? Masuk ke akun pembaca Anda.
Belum punya akun? Daftar gratis
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!