Rote  

Puluhan Paus Pilot Terdampar Massal di Rote Ndao, 21 Ekor Mati dan Dikubur di Pantai

Istimewa

ROTE NDAO, NW.id – Fenomena langka terjadi di perairan Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 55 ekor paus pilot dilaporkan terdampar di perairan dangkal Pantai Mbadokai, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya.

Upaya penyelamatan besar-besaran pun dilakukan oleh tim gabungan. Dari puluhan mamalia laut tersebut, 34 ekor berhasil diselamatkan dan digiring kembali ke laut, sementara 21 ekor lainnya ditemukan mati.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Kupang, Imam Fauzi, mengatakan peristiwa ini berlangsung sejak 9 hingga 10 Maret 2026.

“Sementara 21 ekor ditemukan mati dan akhirnya dikuburkan,” ungkap Imam dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/3/2026).

Peristiwa ini bermula ketika Pangkalan TNI AL (Lanal) Pulau Rote melaporkan kemunculan kawanan paus pilot di Pantai Batutua pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 17.15 WITA.

BACA JUGA:  Nyaris Lolos ke Lombok, Truk Muat Santigi 13 Koli Diamankan TNI AL di Rote, Pembeli Sudah Bayar

Personel TNI AL bersama kepolisian segera melakukan evakuasi dengan menggiring paus kembali ke laut menggunakan kapal.

Namun beberapa jam kemudian, sekitar pukul 21.30 WITA, sebagian kawanan paus tersebut kembali terdampar di Pantai Mbadokai.

Tim gabungan kemudian bergerak cepat pada Selasa (10/3/2026) sejak pukul 07.00 WITA untuk menyelamatkan paus yang masih hidup.

Upaya penyelamatan dilakukan bersama organisasi konservasi Thrive Conservation dan Blue Forest, TNI AL, Polsek Rote Barat Daya, pemerintah desa, serta masyarakat setempat.

Hasil identifikasi awal menunjukkan paus tersebut merupakan Paus Pilot Sirip Pendek (Short-finned Pilot Whale / Globicephala macrorhynchus), salah satu mamalia laut yang dilindungi

Dari 21 paus yang mati, terdiri dari 8 jantan dan 13 betina, dengan rincian 4 anak dan 17 dewasa

BACA JUGA:  Kapolda NTT Apresiasi Aksi Penyelamatan Paus di Rote, Puluhan Personel Polri Diberikan Penghargaan

Tim juga melakukan identifikasi, pengukuran, serta nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian paus tersebut.

“Hasil identifikasi menunjukkan individu terbesar memiliki panjang sekitar 5,1 meter, sementara yang terkecil sekitar 2,4 meter,” jelas Imam.

Bangkai paus kemudian dikubur di lokasi pantai menggunakan ekskavator milik Dinas PUPR Kabupaten Rote Ndao. Proses penguburan berlangsung sejak pukul 12.30 WITA hingga selesai sekitar pukul 19.30 WITA.

Warga setempat juga diimbau untuk tidak mengambil atau mengonsumsi bagian tubuh paus karena satwa tersebut merupakan biota laut yang dilindungi.
Dugaan Penyebab Masih Diteliti

Menurut Imam, fenomena paus terdampar massal dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari gangguan sistem navigasi akibat kebisingan laut, kondisi pantai yang landai, hingga faktor kesehatan dan lingkungan.

BACA JUGA:  Diduga Ada Mafia BBM di Rote Ndao, Warga Minta Polisi Jangan Tidur Usut Oknum Pengelola SPBU

Namun penyebab pasti kejadian tersebut masih memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam penanganan peristiwa ini.

“Kolaborasi aparat, pemerintah daerah, organisasi konservasi, dan masyarakat menjadi kunci dalam penanganan cepat paus pilot yang terdampar di Rote Ndao,” ujarnya.

Sementara itu, Dansatbrimob Polda NTT Kombes Pol Afrizal Asri menegaskan penanganan paus terdampar dilakukan secara terpadu melalui koordinasi lintas instansi.

“Penanganan dilakukan sesuai standar satwa laut yang dilindungi, termasuk identifikasi jenis paus dan pengambilan sampel ilmiah sebelum dilakukan penguburan secara aman dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *