Berita Berkembang
Kota Kupang

Wagub Johni Asadoma Ajak Pertina dan Perbati Bersatu, Fokus Pembinaan Atlet dan Cetak Juara Tinju Nasional

Wagub NTT Jhoni Asadoma

KUPANG.NW.id – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menyerukan kepada Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) dan Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati) untuk segera mengakhiri konflik organisasi demi menjaga keberlangsungan pembinaan atlet tinju nasional.

Menurut Johni, polemik yang terus berlarut tidak hanya mengganggu pembinaan atlet, tetapi juga berpotensi menghilangkan kesempatan para petinju Indonesia tampil di ajang internasional seperti SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.

"Kalau masing-masing ngotot, nanti korbannya petinju. Petinju Pertina tidak bisa ikut SEA Games karena yang mengelola keikutsertaan Indonesia di multi-event seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade adalah Komite Olimpiade Indonesia (KOI)," ujar Johni.

Ia menjelaskan, keikutsertaan atlet Indonesia dalam ajang multi-event internasional berada di bawah koordinasi KOI dan Perbati dibawah sistem pembinaannya.

Sementara Pertina tetap menjalankan pembinaan olahraga tinju dalam sistem pembinaan KONI.

Johni menilai baik Pertina maupun Perbati memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan olahraga tinju Indonesia.

Karena itu, ia meminta kedua belah pihak mengedepankan dialog dan mencari solusi terbaik tanpa mengorbankan atlet

"Sebetulnya dua-duanya sah-sah saja. Tinggal dicari jalan tengahnya. Jangan sampai kita saling ngotot yang akhirnya mengorbankan pembinaan tinju dan atlet-atlet kita," katanya.

Legenda tinju Indonesia itu juga mengingatkan agar hubungan persaudaraan yang telah terjalin selama puluhan tahun di antara insan tinju tidak rusak hanya karena persoalan organisasi.

"Kita ini sudah berteman, sudah bersaudara puluhan tahun. Tidak perlu saling menyalahkan, apalagi sampai membawa persoalan ke pengadilan.

Yang paling penting adalah membangun prestasi tinju Indonesia," tegasnya.

Johni mengajak seluruh insan tinju memusatkan perhatian pada pembinaan atlet agar lahir kembali petinju-petinju berprestasi dari NTT yang mampu bersaing di level nasional maupun internasional.

Ia mengenang, dirinya berhasil mempersembahkan medali emas SEA Games pada 1983, kemudian prestasi tersebut kembali diraih Hermensen Ballo pada SEA Games 1997. Namun, sejak saat itu belum ada lagi petinju asal NTT yang mampu mengulang prestasi tersebut.

Menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028, saat NTT menjadi salah satu tuan rumah, Johni berharap seluruh elemen tinju bersatu dan mengesampingkan perbedaan organisasi demi mempersiapkan atlet terbaik.

"Fokus kita sekarang adalah membangun tinju NTT dan Indonesia. Persoalan organisasi bisa diselesaikan dengan duduk bersama, tetapi pembinaan atlet tidak boleh berhenti," pungkasnya.

Konten bersifat informatif dan bukan nasihat hukum.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!