Berita Berkembang
Kab. Belu

Wagub Johni Asadoma,Belu Buktikan Perbatasan Bisa Menjadi Pusat Perdamaian dan Persahabatan Dunia

Wagub NTT di acara Friendship Dinner yang berlangsung di Aula Betelalenok, Atambua,

ATAMBUA, NW.id – Kabupaten Belu kembali mengukuhkan diri sebagai wajah perdamaian di kawasan perbatasan Indonesia–Timor Leste. 

Melalui Friendship Dinner yang berlangsung di Aula Betelalenok, Atambua, Rabu (1/7/2026) malam, Festival Persahabatan Internasional 2026 resmi dimulai dengan membawa pesan persatuan, toleransi, dan persahabatan bagi dunia.

Festival yang akan berlangsung selama empat hari, mulai 2 hingga 5 Juli 2026 di Lapangan Umum Atambua, menghadirkan tokoh lintas agama, pemerintah, TNI-Polri, akademisi, hingga delegasi internasional dari Kanada dan Timor Leste.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Belu yang dinilainya sukses menghadirkan dua agenda internasional secara beruntun dalam waktu singkat.

Menurut Johni, keberhasilan Belu menjadi tuan rumah Festival Fulan Fehan dan kini Festival Persahabatan Internasional membuktikan bahwa daerah perbatasan mampu tampil sebagai pusat kegiatan bertaraf dunia.

"Walaupun kita berada di wilayah perbatasan, Belu telah menunjukkan kreativitas, inovasi, dan semangat luar biasa. Ini prestasi yang patut dibanggakan seluruh masyarakat NTT," kata Johni.

Ia menilai festival tersebut bukan hanya menjadi ajang mempererat persaudaraan lintas negara, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui keterlibatan sekitar 100 pelaku UMKM lokal.

Dalam sambutannya, Johni juga menyinggung situasi dunia yang masih diwarnai berbagai konflik internasional.

Menurutnya, semangat persahabatan yang diusung Festival Persahabatan Internasional menjadi harapan bagi terciptanya perdamaian global.

"Dunia sedang tidak baik-baik saja karena kehilangan nilai persahabatan.

Apa yang dilakukan Belu ini adalah lilin kecil di tengah kegelapan dunia.

Semoga pesan dari perbatasan NTT ini dapat menginspirasi dunia untuk hidup berdampingan dalam damai," ujarnya.

Ketua Panitia, Vincensius B. Loe, menjelaskan bahwa festival ini lahir dari kolaborasi antara tim pelayanan internasional dari Kanada yang dipimpin Anthony Greco bersama masyarakat perbatasan Indonesia–Timor Leste.

Mengusung tema "Kesembuhan Ilahi bagi Semua Orang", festival diharapkan menjadi ruang mempererat hubungan antarumat beragama, antarbangsa, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Panitia memperkirakan sekitar 8.000 hingga 10.000 peserta akan menghadiri berbagai kegiatan setiap harinya, mulai dari ibadah, seminar rohani, pelayanan sosial, hingga festival kuliner yang melibatkan 100 UMKM Kabupaten Belu.

Dukungan juga datang dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Belu. Ketua MUI Kabupaten Belu, H. Abdullah Belajam, menyebut Belu merupakan simbol toleransi di wilayah perbatasan.

"Belu adalah tolok ukur persaudaraan antarumat beragama. Sinergi antara pemerintah dan tokoh agama menjadi modal penting menjaga perdamaian dan keutuhan NKRI," katanya.

Sementara itu, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Pendeta Gomar Gultom, menilai tema persahabatan sangat relevan di tengah kehidupan modern yang semakin dipengaruhi teknologi digital.

Menurutnya, hubungan antarmanusia kini semakin bersifat transaksional sehingga diperlukan ruang untuk membangun kembali persahabatan yang tulus.

"Kita berharap Atambua benar-benar menjadi Kota Persahabatan yang membawa inspirasi bagi Indonesia bahkan dunia," ujarnya.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, mengatakan pemilihan Belu sebagai lokasi festival memiliki makna yang sangat mendalam. Menurutnya, nama Belu sendiri memiliki arti "teman" atau "sahabat", sehingga sangat selaras dengan semangat festival.

Ia juga meyakini terselenggaranya agenda internasional tersebut merupakan anugerah yang akan membawa manfaat besar bagi masyarakat Belu.

Perwakilan Calgary Life Church, Kanada, Anthony Greco, mengaku terharu dengan sambutan hangat masyarakat Atambua.

Ia mengatakan misi yang dibawa adalah menyebarkan kasih, persahabatan, dan perdamaian kepada semua orang tanpa memandang latar belakang.

"Kami berdoa agar Atambua semakin dikenal sebagai Kota Persahabatan dan masyarakatnya mengalami damai serta sukacita," ungkap Greco.

Acara pembukaan ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama yang dihadiri Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Bupati Belu Willybrodus Lay, Wakil Bupati Belu Vicente H. Gonsalves, Wakil Bupati TTU Kamilus Elu, Ketua Majelis Pertimbangan PGI Gomar Gultom, Ketua MUI Belu Abdullah Belajam, delegasi Kanada, perwakilan Timor Leste, unsur TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, serta berbagai elemen masyarakat.

Festival Persahabatan Internasional 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat citra Belu sebagai daerah perbatasan yang tidak hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi juga menjadi pusat lahirnya pesan persahabatan dan perdamaian bagi dunia

Konten bersifat informatif dan bukan nasihat hukum.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!