Berita  

Riko Yusanto Nitti, Pengusaha Muda Amarasi: Dari Putus Sekolah, Usaha Ternak Sapi, hingga Ekspor Hasil Bumi “Doa Mama Itu Hoki Saya”

Pengusaha Muda,Riko Susanto Nitti saat berada di gudang tempat timbang hasil bumi

KUPANG,NW,id  — Langit siang itu tampak muram. Mendung menggantung di atas sebuah gudang besar seluas lebih dari 5.000 meter persegi di Desa Oelomin, Nekamese, Kabupaten Kupang.

Di balik bangunan baru itu, suara mesin, langkah pekerja, dan aroma kemiri yang baru dikupas bercampur menjadi satu.

Di tengahnya, berdiri seorang pemuda berusia 22 tahun dengan mata tajam penuh keyakinan Riko Yusanto Nitti.

Riko, pemuda kelahiran Tunbaun, 1 Oktober 2003, adalah putra sulung dari pasangan Jekson Nitti dan Margaritta Niti-Takoi dari empat bersaudara.

Dimana pernah putus sekolah, pernah ditipu berkali-kali, dan bahkan pernah berhutang dengan cicilan Rp20 juta per bulan sejak ia baru berusia 18 tahun.

Namun dari perjalanan penuh jatuh-bangun itulah lahir seorang pengusaha muda yang kini mengekspor komoditi hingga ratusan ton ke luar negeri

Gudang CV Rinjanni — nama perusahaan yang diambil dari nama nama dalam keluarga Nitti — baru berdiri satu tahun.

Tetapi aktivitas di dalamnya bergerak tanpa henti: karung-karung biji jambu mete, tumpukan kemiri kulit dan kemiri isi, arang batok kelapa, nikis kabate, kopra, hingga biji kawang.

Di sudut ruangan berdiri mesin pengupas kemiri yang terus berputar. Setelah dikupas, kemiri dimasukkan ke dalam lemari pendingin untuk menjaga kualitas sebelum dikirim.

BACA JUGA:  SK “Rahasia” Copot Kepsek SMKN 5 Kupang, Araksi NTT Desak Gubernur Pulihkan Jabatan dan Copot Kadis Pendidikan

“Ini usaha baru satu tahun. Tapi puji Tuhan, sudah mulai dapat pasar tetap,” kata Riko dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Dari gudang inilah berbagai komoditi dikirim ke Surabaya, dan sebagian langsung ke luar negeri:

Vietnam: jambu mete, kontrak 100 ton

Pakistan: asam, total pengiriman hampir 250 ton

Rata-rata pengiriman: 1 kontainer per minggu dan ini baru permulaan, kata Riko.

Lima Tahun Bergelut di Usaha Sapi

Sebelum merintis usaha komoditi hasil bumi, Riko sudah lebih dulu menjadi pengusaha sapi selama lima tahun. Jumlah pengiriman yang dulu hanya 10 ekor, kini melonjak drastis hingga 150 ekor per bulan.

Ia dibantu 25 karyawan — sebagian dari mereka warga lokal yang baru merasakan stabilitas pekerjaan setelah gudang RN berdiri.

Perjalanan itu ia mulai dari nol. Bahkan bukan dari kampung halaman, tapi dari tanah rantau.

Merantau ke Kalimantan: “Saya Timbang Sapi Orang, Baru Belajar Hidup”

Riko menghentikan pendidikan ketika masih duduk di kelas 1 SMA. Dengan bekal keberanian dan dorongan dari ayahnya, ia merantau ke Kalimantan pada 2018.

BACA JUGA:  Refleksi Setahun Melki-Johni Diluncurkan Buku “Asa dan Rasa”  Jadi Cermin Harapan dan Realita NTT

“Awalnya saya kerja timbang sapi milik ayahnya. Dari situ kenal banyak pengusaha,” kenangnya.

Di Kalimantan, ia belajar bukan hanya soal bisnis. Ia belajar tentang ritme hidup yang keras, dunia usaha yang tidak selalu ramah, dan pentingnya jaringan bisnis.

Ia pulang ke Kupang membawa pengalaman, bukan harta. Tapi ia kembali dengan tekad kuat: memulai usaha sendiri, tanpa modal dari orang tua.

Modal 80 Juta dari Ibu: “Doa Mama Itu Hoki Saya”

Satu-satunya modal yang ia miliki adalah Rp80 juta dari tabungan ibunya, Margaritta Niti-Takoi.

“Saya juga percaya, doa Mama itu yang bikin usaha ini hoki,” katanya sambil tertawa kecil.

Dengan modal itu, ia mengirim 10 ekor sapi pertamanya. Tak lama kemudian, pengirimannya naik menjadi 50 ekor, lalu 100, hingga kini mencapai 150 ekor per bulan.

Nama perusahaannya, CV Rinjanni, ia pilih sebagai bentuk penghormatan pada garis keluarga yang membesarkannya.

Kesuksesan bukan tanpa luka. Riko pernah ditipu berkali-kali ketika baru mulai mengirim barang. Uang hilang, barang juga hilang, tapi ia tetap berdiri.

BACA JUGA:  HUT ke-75, Ditpolairud Polda NTT Anjangsana ke Rumah Purnawirawan,Wujud Hormat kepada Para Senior

“Sebelum sampai tahap ini, memang harus banyak belajar. Tapi saya pikir, orang lain bisa, kenapa saya tidak?” ujarnya mantap.

Keyakinan itu yang membawanya keluar dari banyak badai — termasuk ketika ia berhutang sejak usia 18 tahun.

“Saya pernah punya angsuran 20 juta per bulan. Berat, tapi semua bisa dijalani,” katanya.

Hari ini, Riko bukan hanya seorang pengusaha sapi atau pedagang komoditi biasa.

Ia adalah representasi dari generasi muda Amarasi dan Timor yang membuktikan bahwa tidak harus sekolah tinggi untuk sukses, tidak harus anak orang kaya untuk mulai usaha, dan tidak harus menunggu tua untuk berani mengambil risiko.

“Motivasi saya sederhana: Orang bisa, saya juga harus bisa. Dan saya ingin lebih dari orang tua saya,” tuturnya.

Di usianya yang baru 22 tahun, jejak Riko sudah melampaui batas kabupaten, melintasi benua melalui kontainer-kontainer ekspornya.

Dan di gudang besar itu, di tengah kemiri dan kopra yang terus bergerak, seorang pemuda Amarasi membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat sederhana — asal ada tekad untuk melangkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *