Museum NTT Gelar Pameran “Literasi Tempo Dulu”, Angkat Kembali Jejak Pengetahuan Leluhur

KUPANG,NW,id — Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Museum Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT menggelar pameran temporer bertema “Simbol Literasi Tempo Dulu”.

Pameran dibuka pada Rabu (26/11/2025) dan akan berlangsung hingga Sabtu (29/11/2025) di Museum Provinsi NTT, Kupang.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, dan akan diisi dengan berbagai pertunjukan seni serta budaya daerah sebagai bentuk pengenalan dan edukasi budaya kepada masyarakat.

Kepala UPTD Museum NTT, Meffi Eoh, mengatakan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk memiliki kekayaan budaya yang besar, sehingga diperlukan upaya pelestarian dan penyelamatan warisan leluhur melalui berbagai disiplin ilmu, termasuk museum.

BACA JUGA:  Ditpolairud Polda NTT Gelar Syukuran Sederhana HUT ke-75, Doakan Korban Bencana di Sumatera & Aceh

“Sejak awal berdirinya, Museum NTT telah banyak mengumpulkan benda budaya yang pernah digunakan leluhur atau merupakan peninggalan kejayaan masa lampau.

Pameran museum menjadi cara untuk mengomunikasikan dan memperkenalkan kembali warisan budaya tersebut kepada masyarakat,” ujar Meffi.

Ia menjelaskan bahwa pameran temporer ini disusun secara tematis sesuai potensi koleksi museum. Tema “Simbol Literasi Tempo Dulu” dipilih untuk mengajak masyarakat memahami bahwa literasi telah menjadi bagian dari kehidupan nenek moyang dalam bentuk simbol, alat, dan praktik kebudayaan.

Menurut Meffi, kegiatan ini bukan hanya bersifat edukatif, tetapi juga rekreatif, sehingga mampu menjadi ruang belajar publik yang menyenangkan. Pameran ini juga bertujuan menanamkan rasa cinta, bangga, dan memiliki terhadap budaya NTT, sekaligus memperkuat identitas masyarakat daerah.

BACA JUGA:  296 Kepala Sekolah SMA-SMK di NTT Segera Dilantik, Seleksi Ketat Berbasis Regulasi Baru

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menegaskan pentingnya museum dalam pelestarian budaya. Ia menilai pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

“Pemerintah ingin memastikan kebudayaan terus dijaga dan dilestarikan. Pendidikan dan kebudayaan ibarat dua sisi mata uang yang saling memperkaya,” katanya.

Meski menghadapi keterbatasan fiskal, Pemprov NTT disebut terus berupaya menjaga peran museum sebagai tempat belajar, tempat riset, dan ruang bagi masyarakat untuk mengenal budaya daerah.

Ambrosius juga mendorong tumbuhnya sanggar seni dan pelaku budaya untuk memastikan adanya regenerasi.

Ia menambahkan bahwa literasi budaya masa lalu mengandung banyak nilai yang masih relevan untuk kehidupan saat ini.

“Dari artefak dan peninggalan budaya, kita bisa belajar kearifan lokal yang masih relevan, seperti etika dan tata krama yang harus terus diwariskan dalam kehidupan keluarga,” ujarnya.

BACA JUGA:  BPR Christa Jaya Gelar Bursa Mobil Bekas di Kupang, Tersedia 74 Unit Mulai Rp 80 Juta, Proses Kredit Cepat

Ambrosius berharap pameran ini dapat dimanfaatkan oleh pelajar dan mahasiswa sebagai sarana belajar budaya dan sejarah NTT. Ia mendorong kerja sama antara Museum NTT dengan sekolah dan perguruan tinggi untuk menghadirkan kunjungan edukatif bagi peserta didik.

“Ini penting untuk menyiapkan generasi yang tumbuh sebagai 100 persen Indonesia dan 100 persen NTT,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Ambrosius mengajak masyarakat berpartisipasi dalam pelestarian budaya sebagai bagian dari komitmen menuju Indonesia Emas 2045.

Pameran ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi momentum memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya sebagai identitas bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *